Edisi Minggu, 1 November 2026
Kulkul

Kabar Bali, dari banjar sampai bandara

Kuta, Badung: dari Kampung Pesisir Warga hingga Tujuan Wisata Dunia

Pantai Kuta di Kabupaten Badung, Bali, kini dikenal sebagai tujuan wisata favorit wisatawan lokal dan mancanegara. Sebelum itu, kawasan ini adalah wilayah pesisir tempat warga hidup berdampingan dengan laut. Perubahannya berjalan seiring berkembangnya pariwisata Bali dan hadirnya berbagai fasilitas pendukung di sekitar pantai.

Redaksi KulkulTerbit Diperbarui 3 menit baca
Gelombang laut yang kuat menghantam garis pantai berbatu di Yogyakarta, Indonesia, memperlihatkan keindahan alam.
Ilustrasi · Foto: Ondosan Sinaga / Pexels

DENPASAR, KULKUL — Pantai Kuta di Kabupaten Badung, Bali, kini termasuk tujuan wisata paling terkenal di pulau itu. Pantai ini terus menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara.

Sebelum dikenal sebagai kawasan wisata, Kuta merupakan wilayah pesisir. Warganya menjalani hidup yang sangat bergantung pada laut.

Aktivitas penduduk setempat mengikuti kondisi lingkungan pantai. Kegiatan ekonomi dan interaksi sosial warga berlangsung di kawasan pesisir itu.

Perubahan mulai terasa ketika perhatian terhadap keindahan alam Bali meningkat. Kuta lalu dikenal pengunjung dari luar daerah dan wisatawan asing.

Nama Kuta semakin naik seiring berkembangnya pariwisata Bali. Fasilitas pendukung mulai bermunculan di kawasan sekitar pantai.

Pantai yang luas, ombak yang cocok untuk selancar, dan suasana pesisir yang khas disebut sebagai daya tarik yang mendorong kawasan ini tumbuh. Pasirnya terhampar luas, ombaknya memikat peselancar, dan matahari terbenam di sana ikut menjadi alasan orang datang.

Kebutuhan para pelancong kemudian dilayani berbagai usaha. Akomodasi, restoran, toko, dan tempat hiburan hadir di kawasan Kuta.

Dengan demikian, wajah Kuta berubah dari permukiman pesisir yang bertumpu pada laut menjadi kawasan yang diisi layanan wisata. Pantainya sendiri tetap menjadi pusat perhatian.

Di bagian lain Bali, wisata alam juga menawarkan pengalaman yang berbeda. Toya Selaka Waterfall berada di Desa Selaka, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Lokasinya agak tersembunyi.

Di bawah aliran air terjun terdapat kolam alami yang bisa dipakai untuk berenang. Air terjun itu dikelilingi hutan tropis yang cukup rimbun.

Perjalanan dari pusat Kota Denpasar ke Toya Selaka memakan waktu sekitar dua jam. Tiket masuknya 10 ribu rupiah per orang, sedangkan biaya parkir kendaraan sekitar 5 ribu rupiah.

Di luar Bali, Pantai Glagah Wangi Istambul memadukan hamparan pasir yang luas dengan sabuk hijau hutan mangrove. Pantai ini terletak di Desa Tambakbulusan, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak.

Sabuk hijau mangrove di pantai tersebut berfungsi sebagai pelindung abrasi. Pengunjung dapat datang pukul 08.00 hingga 17.00 WIB pada hari Senin sampai Sabtu. Pada hari Minggu, pantai buka lebih pagi, yakni pukul 06.30 hingga 17.00 WIB.

Harga tiket masuk pantai itu disebut terjangkau, tetapi nominalnya tidak dicantumkan.

Kuta, Toya Selaka, dan Glagah Wangi sama-sama bertumpu pada pesona alam. Namun kisah Kuta paling lengkap memperlihatkan perubahan dari kehidupan pesisir ke kawasan wisata dengan beragam fasilitas.

Analisis redaksi

Tafsir Redaksi Kulkul atas fakta di atas, bukan bagian dari laporan.

Kisah Kuta dapat dibaca sebagai perubahan fungsi ruang. Pesisir yang semula menjadi tempat warga mencari penghidupan dan bersosialisasi mengikuti kondisi lingkungan pantai, kemudian dipenuhi akomodasi, restoran, toko, dan tempat hiburan untuk wisatawan. Pergeseran itu berpotensi mengubah hubungan warga dengan pantai yang dulu menjadi bagian dari keseharian mereka. Bagaimana warga Kuta menempatkan diri di tengah kawasan yang kini melayani pelancong menjadi pertanyaan yang patut dicermati.

Perbandingan dengan destinasi lain memperlihatkan bahwa wisata alam punya banyak bentuk. Toya Selaka di Kintamani masih tergolong tersembunyi, dengan tiket 10 ribu rupiah dan parkir sekitar 5 ribu rupiah. Pantai Glagah Wangi Istambul di Demak memadukan pasir dan mangrove yang berfungsi melindungi dari abrasi. Keduanya dapat menjadi cermin tentang bagaimana alam menjadi modal wisata. Adapun Kuta menunjukkan bahwa daya tarik alam yang kuat, seperti pantai luas, ombak selancar, dan matahari terbenam, berpotensi mendorong tumbuhnya layanan di sekelilingnya. Seberapa besar manfaat dan tekanan yang dirasakan warga setempat dari proses itu tetap layak ditelusuri lebih jauh.

Topik: Pantai Kuta, Bali

Baca juga

Terbaru