Kulkul

Kabar Bali, dari banjar sampai bandara

Ari Dwipayana Serukan Pemuda Bali Bersuara dan Berdaya di Paguneman Yowana 2026

AAGN Ari Dwipayana mengajak generasi muda Bali tidak sekadar menunggu perubahan, tetapi ikut menentukan arah masa depan pulau ini. Seruan itu ia sampaikan pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026, di forum pemuda yang digelar di Universitas Hindu Indonesia (UNHI), Denpasar. Ia menyinggung ketimpangan, krisis lingkungan, dan laju perubahan akibat pariwisata.

Redaksi KulkulTerbit Diperbarui 3 menit baca
Silhouette individu yang melambai-lambai bendera Indonesia saat matahari terbenam yang cerah, melambangkan kebanggaan nasional.
Ilustrasi · Foto: Irgi Nur Fadil / Pexels

DENPASAR, KULKUL — AAGN Ari Dwipayana mengajak generasi muda Bali berani bersuara dan ikut menentukan masa depan pulau ini. Ajakan itu disampaikan di forum pemuda yang berlangsung di Universitas Hindu Indonesia (UNHI), Denpasar, Kamis pagi. Ari kini menjabat Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud dan berstatus akademisi Universitas Gadjah Mada.

Forum tersebut bernama Konferensi Pemuda Bali, atau Paguneman Yowana Bali 2026, dan diselenggarakan BASAibu Wiki Bali. Ari tampil sebagai pembicara kunci.

"Pemuda Bali tidak boleh hanya menjadi penonton perubahan, apalagi korban perubahan," kata AAGN Ari Dwipayana. Ia juga menilai suara anak muda belum cukup bila hanya didengar. "Suara anak muda tidak cukup hanya didengar. Anak muda Bali harus memiliki daya atau power untuk mendesakkan agenda perubahan kepada negara," ujarnya.

Menurut Ari, perubahan di Bali tidak akan terjawab dengan baik bila seluruhnya diserahkan kepada pemimpin. Karena itu, masyarakat dan generasi muda perlu ikut bersuara. Ia mengaitkan hal ini dengan Sumpah Pemuda 1928 dan peran tokoh-tokoh muda dalam perjuangan kemerdekaan.

Ari menilai generasi muda Indonesia masih cenderung menunggu perubahan, padahal jumlah mereka besar dalam struktur penduduk. Ia lalu menunjuk gerakan protes anak muda di Nepal, Prancis, dan Italia. Gerakan-gerakan itu memakai media sosial untuk menyebarkan gagasan dan membangun solidaritas sebelum turun ke lapangan. Menurut dia, sasaran kritik gerakan Gen-Z pada umumnya adalah negara dan rezim yang dianggap tak mendengar aspirasi mereka.

Soal kondisi Bali, Ari menyebut perubahan sosial, ekonomi, dan budaya berlangsung sangat cepat. Pemicunya meliputi meluasnya ekonomi pariwisata, revolusi teknologi, serta arus modal dan manusia yang masif. Pariwisata, teknologi, dan perpindahan penduduk, katanya, memengaruhi kehidupan sekaligus kebudayaan Bali.

Dari sisi pembangunan, ia menyebut jurang antara Bali selatan dan Bali utara, selisih kepemilikan aset, serta perbedaan peluang kerja. Dari sisi lingkungan, ia menyinggung air yang tidak seimbang, banjir, kelangkaan air bersih, dan abrasi pantai yang dikaitkan dengan perubahan iklim.

"Ketika economic growth sebagai paradigma utama, maka pasti ada yang tertinggal," kata Ari Dwipayana. Ia juga melontarkan peringatan soal tata kelola. "Ketika pemerintah gagap merespons perubahan, yang terjadi adalah situasi autopilot," ujarnya.

Ari menekankan perlunya kepemimpinan yang punya arah dan strategi kebudayaan jelas, lalu dituangkan dalam pengelolaan pemerintahan. Ia mengingatkan kembali strategi kebudayaan yang pernah dirintis Ida Bagus Mantra untuk menghadapi zaman yang berubah. Menjaga Bali, tegasnya, tak cukup dengan slogan atau dengan melepas semua tanggung jawab kepada pemerintah, sehingga masyarakat mesti mempraktikkan kearifan lokal.

Tentang gerakan BASAibu Wiki Bali, Ari menyebut gerakan itu menarik karena menyatukan isu pemuda, bahasa ibu, dan teknologi digital. Memakai bahasa Bali dalam gerakan tersebut, katanya, tidak berhenti pada pelestarian bahasa. Bahasa itu juga menjadi alat untuk menumbuhkan kesadaran identitas, solidaritas, dan kepedulian atas masa depan Bali. Ia berpendapat harapan yang sepenuhnya digantungkan pada negara bisa berujung fatamorgana, sehingga suara dan kontrol publik krama Bali, terutama kaum muda, perlu diperkuat.

Analisis redaksi

Tafsir Redaksi Kulkul atas fakta di atas, bukan bagian dari laporan.

Pidato Ari dapat dibaca sebagai upaya menggeser posisi pemuda dari penerima kebijakan menjadi penekan agenda. Ia meminta anak muda memiliki daya untuk mendesakkan perubahan kepada negara, bukan sekadar didengar. Rujukannya pada gerakan Gen-Z di sejumlah negara, yang menyasar negara dan rezim yang dianggap tak mendengar, berpotensi menjadi bingkai bagi tuntutan serupa di Bali. Apakah bingkai itu akan menjelma gerakan nyata masih menjadi pertanyaan, sebab bahan ini tidak memuat rencana aksi apa pun.

Kritik Ari soal pemerintah yang gagap dan berjalan autopilot serta pandangannya bahwa pertumbuhan ekonomi sebagai paradigma utama meninggalkan sebagian pihak patut dicermati dalam kerangka tata kelola pariwisata. Ketimpangan Bali selatan dan utara serta krisis air dan abrasi dapat menjadi ukuran bagi publik untuk menagih arah kebijakan. Penekanannya pada kepemimpinan berstrategi kebudayaan dan kearifan lokal menunjukkan bahwa desakan itu tidak hanya diarahkan ke pemerintah, tetapi juga ke komunitas sendiri. Seberapa jauh seruan ini menggerakkan krama muda untuk terlibat dalam pengawasan publik masih harus dilihat.

Topik: Ari Dwipayana, Bali

Baca juga

Terbaru