Kulkul

Kabar Bali, dari banjar sampai bandara

Prediksi Pelemahan Rupiah Tembus Rp 22.000 di Tengah Tekanan MSCI

Hashim Djojohadikusumo memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi melemah hingga Rp 22.000 per dolar AS akibat tekanan dari MSCI yang membuka opsi penurunan status pasar modal Indonesia. Pernyataan ini disampaikan dalam Rapat Kerja Nasional Kadin Indonesia pada Kamis (29/10/2026) di Jakarta, menyoroti risiko arus keluar modal asing dan praktik spekulasi pasar modal. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi stabilitas ekonomi makro dan kepercayaan investor asing.

Redaksi KulkulTerbit Diperbarui 3 menit baca
Tampilan dekat kalkulator, pena, dan laporan keuangan di atas meja kayu.
Ilustrasi · Foto: Bia Limova / Pexels

DENPASAR, KULKUL — Hashim Djojohadikusumo, Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, menyampaikan peringatan keras mengenai potensi pelemahan nilai tukar rupiah yang bisa menyentuh level Rp 20.000 hingga Rp 22.000 per dolar AS [1]. Angka proyeksi tersebut muncul sebagai respons terhadap ketidakpastian yang ditimbulkan oleh MSCI yang membuka opsi penurunan status pasar modal Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Standalone Market [2]. Dalam Rapat Kerja Nasional Kadin Indonesia yang digelar di Hotel Borobudur, Jakarta, pada Kamis (29/10/2026), Hashim menegaskan bahwa skenario terburuk ini dapat terjadi jika terjadi arus keluar modal asing yang masif akibat isu downgrade bursa [2].

Kekhawatiran Hashim tidak hanya berfokus pada nilai tukar, tetapi juga pada praktik spekulasi di pasar modal yang dinilai tidak sehat. Ia menyoroti adanya saham-saham yang "digoreng" dengan free float terbatas dan P/E Ratio yang tidak masuk akal [1]. Hashim meminta agar praktik tersebut segera dihentikan dan mencontohkan langkah tegas pemerintah Turkiye yang berhasil menangkap 94 pelaku praktik serupa sebagai referensi tindakan yang dapat diambil [2]. Pernyataan ini sejalan dengan keresahan investor yang mencari kepastian kebijakan dan implementasi reformasi pasar modal yang sejalan dengan rekomendasi MSCI [3].

Kondisi pasar saat ini menunjukkan tekanan yang signifikan. Nilai tukar rupiah tercatat melemah ke level Rp 18.184 per dolar AS, dengan pelemahan mingguan sekitar 0,55% [3].

Namun, Erwin Gunawan Hutapea dari Bank Indonesia mencatat bahwa rupiah dan mata uang regional masih dipengaruhi oleh ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah [3]. Presiden Prabowo Subianto juga menyampaikan sikap tegas kepada MSCI bahwa Indonesia tidak takut dan tidak akan gentar terhadap tekanan apa pun [3].

Para pelaku pasar kini memantau perkembangan lebih lanjut. Langkah ini menunjukkan upaya institusi keuangan untuk menjaga likuiditas dan kepercayaan pasar di tengah ketidakpastian makroekonomi global.

Analisis redaksi

Tafsir Redaksi Kulkul atas fakta di atas, bukan bagian dari laporan.

Prediksi Hashim Djojohadikusumo mengenai pelemahan rupiah hingga Rp 22.000 per dolar AS [1] patut dicermati sebagai indikator risiko sistemik yang dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi nasional. Jika proyeksi ini terwujud akibat arus keluar modal asing yang masif [2], dampaknya akan merembet ke sektor riil, termasuk pariwisata yang sangat bergantung pada nilai tukar dan kepercayaan investor asing. Pelemahan rupiah yang signifikan dapat meningkatkan biaya operasional bagi pelaku pariwisata yang mengimpor bahan baku atau peralatan, sekaligus mengurangi daya beli wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia. Hal ini menjadi pertanyaan besar bagi keberlanjutan sektor pariwisata pasca-pandemi yang sedang dalam fase pemulihan.

Selain itu, tekanan dari MSCI yang membuka opsi penurunan status Indonesia menjadi Standalone Market [2] berpotensi mengubah struktur aliran dana asing. Penurunan status ini dapat memaksa investor institusi untuk menjual aset mereka, yang diperparah oleh praktik spekulasi pasar modal yang tidak sehat [1]. Jika reformasi pasar modal tidak segera diimplementasikan sesuai rekomendasi MSCI [3], Indonesia mungkin kehilangan akses ke modal asing jangka panjang yang murah. Ini akan berdampak pada biaya pinjaman pemerintah dan korporasi, yang pada akhirnya dapat menghambat investasi infrastruktur dan pengembangan destinasi pariwisata baru. Oleh karena itu, kepastian kebijakan dan transparansi pasar modal menjadi kunci untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan menarik investasi jangka panjang.

Sumber

  1. detikFinance, “Hashim Sebut Dolar AS Bisa Tembus Rp 22.000 Gegara MSCI: Bencana & Malapetaka!” — finance.detik.com
  2. CNBC Indonesia, “Hashim Warning! Rupiah Bisa Tembus Rp21.000 per Dolar AS” — cnbcindonesia.com
  3. IDNFinancials, “MSCI akan replikasi, Indonesia hadapi tekanan 'triple selling'?” — idnfinancials.com

Topik: Hashim, MSCI, Dolar AS, Rupiah

Baca juga