Rupiah Tertekan ke Rp18.135 per Dolar AS, Harga Minyak Brent Capai US$116
Rupiah ditutup di Rp18.135 per dolar AS pada Senin, 26 Oktober 2026, sementara minyak Brent bertahan di atas US$115 per barel. Bank Indonesia menyatakan tetap berada di pasar. Tekanan ini berpotensi menambah beban biaya energi dan operasional sektor yang bergantung pada bahan bakar impor, termasuk pariwisata Bali.

DENPASAR, KULKUL — Rupiah melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Senin, 26 Oktober 2026, dan menutup hari di Rp18.135 per dolar AS. Angka itu turun 55 poin, atau 0,30 persen, dari posisi sebelumnya di pasar spot [7]. Di pasar Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), kurs bergerak ke Rp18.116 per dolar AS dari Rp18.069 [3].
Penutupan hari itu juga tercatat sebagai yang terlemah sejak awal Juni 2026, atau dalam sekitar empat bulan terakhir [1]. Pada Selasa pagi, 27 Oktober, rupiah dibuka sedikit lebih lemah di Rp18.120 per dolar AS [2].
Tekanan datang bersamaan dengan lonjakan harga minyak. Minyak mentah Brent naik 2,7 persen menjadi US$116,20 per barel, tertinggi sejak Juni 2022, sedangkan West Texas Intermediate menguat 3,04 persen ke US$102,50 [3]. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengaitkan pelemahan rupiah dengan kekhawatiran eskalasi tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali mendorong harga minyak di atas US$100 per barel [8].
Dana asing juga mengalir keluar. "Outflow masih cukup besar, rata-rata harian masih Rp1-2 triliunan," kata Lukman [5]. Di pasar obligasi, arus keluar dana asing tercatat US$203 juta pada 21 Oktober [4].
Sepanjang 2026, rupiah terdepresiasi sekitar 7,52 persen. Angka itu lebih besar daripada pelemahan baht Thailand 6,37 persen dan rupee India 4,86 persen, tetapi lebih kecil daripada peso Filipina yang sekitar 7,12 persen turun lebih tipis [4]. Pengamat ekonomi CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyebut Indonesia tidak menghadapi tekanan ini sendirian, tetapi rupiah termasuk mata uang berkinerja terlemah di kawasan [4].
Bank Indonesia menyatakan tetap berada di pasar. Ia menyebut pergerakan hari itu sebagai volatilitas biasa yang tetap dipantau [1].
Dari sisi fiskal, ICP per akhir September berada di US$91,9 per barel, sedangkan asumsi APBN hanya US$70 [3]. Setiap kenaikan US$1 per barel berpotensi memperlebar defisit hingga Rp6,8 triliun, sementara setiap depresiasi Rp100 per dolar AS dapat menambah defisit Rp800 miliar [3]. Belanja subsidi dan kompensasi energi sampai 30 September tercatat Rp376,8 triliun, naik 54,1 persen secara tahunan [6].
Inflasi tahunan September naik dari 3,19 persen menjadi 3,28 persen. Inflasi pangan bergejolak berada di 5,03 persen, sedangkan inflasi inti 2,84 persen [4].
Untuk sepekan ini, analis memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.250 per dolar AS [6].
Analisis redaksi
Tafsir Redaksi Kulkul atas fakta di atas, bukan bagian dari laporan.
Bagi Bali, kaitan paling langsung ada pada biaya yang dipatok dalam dolar atau bergantung pada energi impor. Bahan yang tersedia tidak memuat data biaya operasional hotel, restoran, atau transportasi wisata di Bali, sehingga hubungan itu masih sebatas tafsir. Jika kenaikan itu terserap pelaku usaha, margin hotel dan operator transportasi dapat menyempit; jika diteruskan ke tarif, daya saing harga paket wisata patut dicermati.
Pemerintah juga menghadapi tekanan serupa pada anggaran. Selisih ICP dari asumsi APBN dan belanja subsidi energi yang naik 54,1 persen menunjukkan ruang fiskal yang menyempit [6][4]. Bila beban itu mendorong penyesuaian harga energi, dampaknya dapat merembet ke sektor pariwisata yang padat konsumsi bahan bakar dan transportasi. Di sisi lain, penurunan GWM rata-rata sebesar 2 persen oleh BI menjadi salah satu bantalan yang disebut dalam pemberitaan [5], dan ke mana likuiditas itu mengalir, termasuk ke sektor jasa wisata, menjadi pertanyaan yang belum terjawab di bahan ini.
Sumber
- CNBC Indonesia, “Rupiah Ditutup Melemah 0,39%, Dolar AS Naik Jadi Rp18.110” — cnbcindonesia.com
- CNBC Indonesia, “Rupiah Dibuka Loyo, Dolar AS Menguat ke Rp18.120” — cnbcindonesia.com
- Antara News jatim, “Rupiah melemah seiring kekhawatiran terhadap fiskal Indonesia” — jatim.antaranews.com
- CNN Indonesia, “Rupiah Terus Melemah, Kali Ini Apa Biang Keroknya?” — cnnindonesia.com
- ANTARA News, “Rupiah melemah seiring kekhawatiran eskalasi tensi konflik di Timteng” — antaranews.com
- CNN Indonesia, “Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.135 per Dolar AS Sore Ini” — cnnindonesia.com
- Pusat Data Kontan, “Kurs Rupiah Melemah Tajam, Ditutup Rp 18.135 Per Dolar AS Hari Ini (26/10)” — pusatdata.kontan.co.id
- Kompas.com, “Rupiah Tembus Rp 18.133 per Dollar AS, BI Siaga di Pasar” — money.kompas.com
Baca juga
Ekonomi Bali
Rupiah Tembus Rp18.000, BI Jaga Stabilitas di Tengah Tekanan GlobalEkonomi Bali
Beli iPhone 18 Pro Max Butuh 63 Hari Kerja bagi Pekerja Indonesia, Picodi CatatEkonomi Bali
Honda Peringatkan Tarif Kanada 50% 'Katastrofik' bagi Industri; Dampak ke Bali Belum Terjawab BahanEkonomi Bali
Edwin Soeryadjaya Tambah 711.900 Saham SRTG, Kepemilikan Jadi 36,0698%