Kulkul

Kabar Bali, dari banjar sampai bandara

Rupiah Tembus Rekor Terlemah Rp18.184, BI Soroti Faktor Eksternal dan Intervensi

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Rabu, 28 Oktober 2026, menyentuh level historis Rp18.184 per dolar AS, menandai titik terendah sepanjang masa. Bank Indonesia mengidentifikasi ketidakpastian konflik Timur Tengah, ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat, serta potensi penurunan klasifikasi pasar saham oleh MSCI sebagai pendorong utama pelemahan ini. Pemerintah dan otoritas moneter menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas makroekonomi melalui koordinasi intensif dan intervensi pasar.

Redaksi KulkulTerbit Diperbarui 4 menit baca
Wanita menjual produk segar di pasar yang sibuk di Pontianak, Indonesia.
Ilustrasi · Foto: Rizky Rianto / Pexels

DENPASAR, KULKUL —

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mencatatkan rekor terlemah sepanjang sejarah pada perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026. Kurs acuan Bank Indonesia (JISDOR) yang diterbitkan pada sore hari tercatat sebesar Rp18.183 per dolar AS, sementara kurs spot di pasar valas ditutup di level Rp18.184 [2]. Angka ini menandai penurunan signifikan dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di kisaran Rp18.156, dengan pelemahan harian mencapai 28 poin atau sekitar 0,15 persen [6].

Kondisi ini menempatkan rupiah dalam tekanan berat di tengah volatilitas global yang tinggi.

Bank Indonesia menguraikan bahwa tekanan terhadap rupiah bukan hanya berasal dari faktor domestik, melainkan dominasi faktor eksternal yang kompleks. Ketegangan geopolitik tersebut juga menjaga harga minyak dunia tetap berada di atas level 115 dolar AS per barel, yang secara langsung meningkatkan risiko fiskal bagi negara pengimpor energi [6].

Selain geopolitik, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga di Amerika Serikat turut memperberat beban rupiah. Data menunjukkan bahwa negara-negara pendukung AS membeli surat utang negara tersebut senilai 174,3 miliar dolar AS dalam delapan bulan pertama 2026, namun pembelian surat utang jangka menengah dan panjang turun 60 persen dibandingkan tahun sebelumnya [2]. Perilaku investor yang menarik dana dari pasar berkembang, termasuk Korea Selatan yang mencatat penjualan bersih surat utang AS sebesar 23,8 miliar dolar AS, mencerminkan sentimen risiko global yang sedang memburuk [2].

Faktor teknis pasar juga memberikan tekanan tambahan. Hal ini diperparah oleh kenaikan yield obligasi global yang membuat instrumen aset Indonesia kurang menarik dibandingkan alternatif di negara maju [6].

Menanggapi kondisi tersebut, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas mekanisme pasar. Erwin Gunawan Hutapea menyatakan bahwa otoritas moneter terus hadir di pasar untuk memastikan nilai tukar tetap terjaga sesuai fundamentalnya [4]. Langkah konkret yang diambil meliputi intervensi melalui transaksi NDF (Non-Deliverable Forward) dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) untuk menyerap volatilitas [4].

Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan optimisme terhadap ketahanan makroekonomi Indonesia. Ia menekankan bahwa meskipun rupiah tertekan, kondisi fundamental negara masih memungkinkan untuk bertahan [7]. Optimisme ini didukung oleh data cadangan devisa Indonesia yang tercatat sebesar 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026, angka yang dianggap masih memadai untuk menopang stabilitas eksternal [5].

Namun, dampak riil dari pelemahan rupiah mulai terasa pada sektor energi dan impor. Realisasi belanja subsidi dan pembayaran kompensasi energi Indonesia telah mencapai 376,8 triliun rupiah hingga akhir September 2026 [3]. Dengan harga minyak yang bertahan tinggi, beban fiskal pemerintah untuk subsidi energi diproyeksikan akan membengkak lebih lanjut [3].

Selain itu, perusahaan dengan utang dalam dolar akan menghadapi beban pembayaran yang lebih berat, yang dapat menekan profitabilitas dan investasi di sektor swasta [3]. Kenaikan harga Dexlite yang mencapai 20 persen dalam sebulan juga menjadi indikator awal tekanan biaya produksi yang akan merambat ke konsumen [3].

Bank Indonesia juga terus berkoordinasi secara intensif dengan korporasi, pelaku pasar, dan pihak terkait lainnya untuk memastikan kelancaran arus valuta asing [1]. Koordinasi ini bertujuan untuk mencegah kepanikan pasar dan memastikan bahwa likuiditas dolar tersedia bagi pelaku usaha yang membutuhkan untuk kegiatan impor dan pembayaran utang luar negeri [1].

Meskipun tekanan eksternal sangat kuat, pemerintah dan BI berupaya menjaga narasi bahwa pelemahan rupiah adalah fenomena global yang juga dialami oleh negara-negara tetangga. Dengan cadangan devisa yang masih dalam posisi aman dan intervensi yang dilakukan secara proaktif, otoritas berharap volatilitas dapat segera mereda seiring dengan kejelasan situasi geopolitik Timur Tengah.

Analisis redaksi

Tafsir Redaksi Kulkul atas fakta di atas, bukan bagian dari laporan.

Dari lensa ekonomi, pelemahan rupiah ke level Rp18.184 bukan sekadar fluktuasi pasar, melainkan sinyal risiko sistemik yang perlu diwaspadai oleh pelaku industri, termasuk pariwisata. Tingginya harga minyak di atas 115 dolar AS per barel [6] secara langsung menggerus daya beli masyarakat dan meningkatkan biaya operasional sektor jasa. Bagi industri pariwisata, biaya transportasi dan akomodasi yang berbasis pada mata uang asing atau bahan bakar impor akan mengalami inflasi biaya, yang berpotensi mengurangi margin keuntungan operator jika tidak diimbangi dengan kenaikan tarif yang rasional.

Selain itu, beban subsidi energi yang telah mencapai 376,8 triliun rupiah [3] menunjukkan kerentanan fiskal pemerintah. Jika tekanan fiskal membesar akibat subsidi yang membengkak, ruang gerak anggaran untuk infrastruktur pariwisata dan promosi destinasi dapat tergerus. Hal ini patut dicermati karena investasi infrastruktur adalah kunci daya saing destinasi wisata Indonesia di mata internasional. Pelemahan rupiah juga meningkatkan beban utang perusahaan berdenominasi dolar, yang dapat memicu restrukturisasi utang atau penundaan ekspansi bisnis di sektor hospitality. Oleh karena itu, stabilitas nilai tukar bukan hanya isu makroekonomi abstrak, tetapi fondasi langsung bagi keberlanjutan bisnis pariwisata dan investasi tanah di sektor properti terkait.

Sumber

  1. ANTARA News Jambi, “Dolar hampir Rp18.200, BI sebut rupiah masih dipengaruhi Timur Tengah” — jambi.antaranews.com
  2. Pusat Data Kontan, “Rupiah Melemah 6 Hari Beruntun, Kurs Jisdor Cetak Rekor Terlemah Sepanjang Masa” — pusatdata.kontan.co.id
  3. Kompas.com, “Rupiah Tertekan Dollar AS, Beban Impor hingga Subsidi Energi Berpotensi Membengkak” — money.kompas.com
  4. Okezone, “Rupiah Melemah Rp18.180, BI Pastikan Intervensi NDF hingga Beli SBN” — economy.okezone.com
  5. detikFinance, “BI Ungkap Biang Kerok Dolar AS Nyaris Rp 18.200” — finance.detik.com
  6. Kompas.com, “Rupiah Melemah ke Rp 18.184 per Dollar AS, Ini Penyebabnya Menurut BI” — money.kompas.com
  7. Kompas.com, “Rupiah Tembus Rp 18.184 per Dollar AS, Menko Airlangga Tetap Optimistis” — money.kompas.com

Topik: Bank Indonesia, Dolar AS, Rupiah

Baca juga