Kulkul

Kabar Bali, dari banjar sampai bandara

The Fed Tahan Suku Bunga Oktober, Fokus pada Sinyal Kenaikan Desember

Meskipun tidak ada kenaikan, fokus utama adalah sinyal Ketua Warsh mengenai potensi kenaikan berikutnya pada Desember di tengah inflasi AS yang masih tinggi. Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan data ekonomi terbaru dan konteks politik menjelang pemilihan paruh waktu.

Redaksi KulkulTerbit Diperbarui 3 menit baca
Tangan memegang pensil memeriksa grafik data berwarna di atas meja dengan laptop.
Ilustrasi · Foto: Lukas Blazek / Pexels

DENPASAR, KULKUL —

Pasar keuangan global kini menantikan keputusan The Fed pada pertemuan FOMC hari ini, dengan konsensus yang sangat kuat bahwa bank sentral AS akan menahan suku bunga [1].

Indeks Harga Konsumen (CPI) September mencatat kenaikan tahunan sebesar 3,7 persen, jauh di atas target inflasi 2 persen [5]. Inflasi inti juga tercatat di angka 2,6 persen, dengan harga grosir yang melonjak lebih dari 6 persen [4]. Data ini memperkuat argumen bahwa tekanan harga masih melekat, meskipun laju kenaikan mulai melambat dibandingkan bulan-bulan sebelumnya [3].

Ketua The Fed, Kevin Warsh, diperkirakan akan memberikan panduan implisit untuk kenaikan Desember tanpa memberikan panduan langsung yang eksplisit [1]. Ekonom Nomura, Ruchir Sharma, mencatat bahwa Warsh kemungkinan besar akan mendukung kenaikan tersebut secara tersirat [1]. Namun, melewatkan Oktober memberi pejabat lebih banyak waktu untuk menilai tren data ekonomi terbaru [3].

Peluang kenaikan pada Desember diperkirakan lebih dari 80 persen, sementara probabilitas kenaikan 50 basis poin pada Maret mencapai 46,5 persen [2].

Suku bunga hipotek di AS kini berada di atas 7 persen, yang menekan pasar perumahan dan meningkatkan biaya pinjaman bagi konsumen [5]. Suku bunga rata-rata baru penawaran kartu kredit juga mencapai 23,96 persen, mencerminkan dampak langsung dari kebijakan moneter ketat [5].

Ekonom Navy Federal Credit Union, Heather Long, menyatakan bahwa The Fed pasti akan menaikkan suku bunga lagi, mungkin pada Desember [2]. Ia juga memperingatkan bahwa biaya pinjaman tinggi dan suku bunga hipotek di atas 7 persen akan bertahan setidaknya satu tahun, mungkin lebih lama [2].

Ekonom Bank of America, Aditya Bhave, mengingatkan bahwa jika The Fed menahan diri, pasar dapat mempertanyakan kredibilitas bank sentral dalam memerangi inflasi [5]. Namun, ekonom Allianz, Mohamed El-Erian, berpendapat bahwa pengendalian fiskal, bukan pengetatan moneter, adalah solusi untuk inflasi [3].

Ekonom Deutsche Bank, Brett Ryan, mencatat bahwa melewatkan Oktober memberi pejabat lebih banyak waktu untuk menilai tren data [3]. Sementara itu, ekonom Evercore ISI, Krishna Guha, memperingatkan adanya risiko eksekusi yang signifikan dalam kebijakan ini [3].

Ekonom Harvard University dan mantan ekonom utama IMF, Ken Rogoff, menyatakan bahwa fondasi fundamental menyerukan kenaikan suku bunga [4]. Ekonom Princeton University dan mantan wakil ketua The Fed, Alan Blinder, menambahkan bahwa ketika sudah sangat dekat dengan pemilihan, ada alasan untuk tetap rendah hati [4].

Ekonom Navy Federal Credit Union, Heather Long, juga menyebutkan bahwa inflasi masih menjadi masalah utama di ekonomi AS, dan ada banyak tanda bahwa hal itu menjadi lebih luas [5]. Ia juga mencatat bahwa keputusan ini diambil mengingat bahwa ini tepat sebelum pemilihan [5].

Analisis redaksi

Tafsir Redaksi Kulkul atas fakta di atas, bukan bagian dari laporan.

Keputusan The Fed untuk menahan suku bunga pada Oktober 2026, meskipun inflasi masih berada di 3,7 persen, menciptakan ketidakpastian bagi pelaku ekonomi global, termasuk Indonesia [5][2]. Bagi sektor pariwisata dan properti di Bali, tingginya suku bunga hipotek dan pinjaman di AS [2] berpotensi mengurangi daya beli wisatawan dari negara tersebut, yang merupakan salah satu pasar asal wisatawan utama. Jika suku bunga tetap tinggi untuk waktu yang lama, seperti yang diprediksi oleh Heather Long [2], biaya perjalanan dan akomodasi bagi wisatawan AS bisa menjadi lebih mahal, sehingga mempengaruhi volume kunjungan.

Selain itu, kebijakan moneter AS yang ketat berdampak pada aliran modal dan nilai tukar rupiah. Jika The Fed menunda kenaikan, pasar mungkin mempertanyakan kredibilitasnya dalam mengendalikan inflasi [5], yang dapat menyebabkan volatilitas di pasar keuangan global. Hal ini patut dicermati oleh investor dan pelaku usaha di Indonesia, terutama yang memiliki utang dalam dolar AS atau bergantung pada modal asing. Kenaikan suku bunga di Desember, yang diprediksi oleh sebagian besar ekonom [1][2], dapat memperkuat dolar AS, membuat utang luar negeri lebih mahal bagi perusahaan Indonesia. Oleh karena itu, sektor pariwisata dan properti perlu mempersiapkan strategi mitigasi risiko terhadap fluktuasi nilai tukar dan perubahan pola permintaan wisatawan dari AS.

Sumber

  1. Investopedia, “What To Expect From Wednesday’s Federal Reserve Meeting” — investopedia.com
  2. Fox Business, “Federal Reserve expected to hold interest rates steady in last decision before midterm elections” — foxbusiness.com
  3. CNBC, “Fed expected to hold rates steady, but Warsh may point way to more hikes” — cnbc.com
  4. Yahoo Finance, “Fed expected to hold rates steady this week despite hot inflation — but signal they're not done hiking” — finance.yahoo.com
  5. CNBC, “Federal Reserve is likely to hold interest rates steady in October. Here's what that means for consumers” — cnbc.com

Baca juga