BCA Revisi Proyeksi Pertumbuhan Kredit 2026 Jadi 10-12 Persen, Laba 9M Capai Rp45,2 Triliun
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat laba bersih Rp45,2 triliun pada sembilan bulan pertama 2026, tumbuh 4,2 persen secara tahunan. Seiring dengan realisasi penyaluran kredit yang tumbuh 12,6 persen hingga September, manajemen merevisi target pertumbuhan kredit 2026 dari kisaran 8–10 persen menjadi 10–12 persen. Revisi ini didorong oleh kenaikan permintaan kredit dan faktor musiman, dengan rasio kredit bermasalah (NPL) gross tercatat di level 1,79 persen.

DENPASAR, KULKUL — PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mengumumkan pencapaian kinerja keuangan untuk periode sembilan bulan pertama tahun 2026. Laba bersih yang diraih mencapai Rp45,2 triliun, menunjukkan pertumbuhan 4,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya [3]. Pencapaian ini didorong oleh peningkatan aktivitas bisnis dan penyaluran kredit yang melampaui ekspektasi awal.
Total kredit yang disalurkan hingga September 2026 tercatat sebesar Rp1.063 triliun, tumbuh 12,6 persen secara tahunan [3]. Pertumbuhan ini didominasi oleh kredit produktif yang mencapai Rp831 triliun dengan laju pertumbuhan 17,2 persen [4]. Kredit korporasi juga mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 20,9 persen menjadi Rp528,1 triliun, sementara kredit usaha kecil dan menengah (UKM) tumbuh 15,4 persen menjadi Rp149,2 triliun [4].
Mengingat tren permintaan yang meningkat, manajemen BCA merevisi target pertumbuhan kredit untuk tahun 2026 dari kisaran 8–10 persen menjadi 10–12 persen [1]. Revisi ini sejalan dengan realisasi penyaluran yang sudah mencapai level di atas target awal [4]. Net Interest Margin (NIM) bank tercatat sebesar 5,41 persen per September 2026, sementara rasio kredit bermasalah (NPL) gross berada di level 1,79 persen [2].
Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menjelaskan bahwa kenaikan permintaan kredit menjadi alasan utama penyesuaian proyeksi tersebut [2]. Ia menegaskan bahwa bank berkomitmen menyalurkan kredit ke beragam sektor dengan tetap mempertimbangkan prinsip kehati-hatian [3]. Wakil Presiden Direktur BCA, John Kosasih, menambahkan bahwa peningkatan permintaan ini juga dipengaruhi oleh faktor musiman di mana pelaku bisnis melakukan procurement dan produksi lebih awal [2].
Di sisi lain, Bank Negara Indonesia (BNI) juga merevisi target pertumbuhan kreditnya ke kisaran 10–13 persen, menunjukkan tren positif di sektor perbankan [1]. Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit industri perbankan pada tahun 2026 berada dalam kisaran 8–12 persen [2]. Kondisi likuiditas BCA juga terjaga dengan total dana pihak ketiga (DPK) meningkat 8 persen menjadi Rp1.301 triliun [3].
Analisis redaksi
Tafsir Redaksi Kulkul atas fakta di atas, bukan bagian dari laporan.
Kinerja keuangan BCA pada sembilan bulan pertama 2026 menunjukkan ketahanan bisnis yang kuat dengan laba bersih mencapai Rp45,2 triliun [3]. Pertumbuhan laba sebesar 4,2 persen secara tahunan ini, meskipun tidak ekslusif, mencerminkan efisiensi operasional dan kemampuan bank dalam mempertahankan margin di tengah kondisi pasar yang dinamis [3]. Revisi target pertumbuhan kredit dari 8–10 persen menjadi 10–12 persen menjadi indikasi bahwa manajemen melihat potensi ekspansi yang lebih besar dari yang diprediksi semula [1]. Hal ini sejalan dengan realisasi penyaluran kredit yang sudah tumbuh 12,6 persen hingga September, melampaui laju pertumbuhan kredit perbankan nasional yang diprakirakan Bank Indonesia berada di kisaran 8–12 persen [2].
Dari perspektif ekonomi, kenaikan permintaan kredit yang memicu revisi target ini patut dicermati sebagai sinyal pemulihan aktivitas bisnis. Pernyataan John Kosasih mengenai faktor musiman dan kebutuhan procurement awal oleh pelaku bisnis mengindikasikan adanya percepatan siklus investasi [2]. Jika tren ini berlanjut hingga akhir tahun, sektor perbankan, termasuk BCA, berpotensi menikmati pertumbuhan pendapatan bunga yang lebih baik. Namun, tantangan menjaga kualitas aset tetap ada, terlihat dari rasio NPL gross yang tercatat 1,79 persen [2]. Bank perlu memastikan bahwa ekspansi kredit, terutama di segmen korporasi yang tumbuh 20,9 persen, tidak mengorbankan prinsip kehati-hatian [4].
Sumber
- Stockbit Snips, “💰 BBCA: Laba Bersih 9M26 Tumbuh +4% YoY, Tren NIM Kontras dibanding Big Banks Lain” — snips.stockbit.com
- ANTARA News, “BCA perkirakan kredit tumbuh 10-12 persen seiring naiknya permintaan” — antaranews.com
- Kompas.com, “BCA Raup Laba Bersih Rp 45,2 Triliun hingga September 2026, Naik 4,2 persen” — money.kompas.com
- Warta Ekonomi, “Kredit BCA Tembus Rp1.063 Triliun per September 2026, Pertumbuhan Lampaui Target Awal” — wartaekonomi.co.id
Topik: BCA
Baca juga
Ekonomi Bali
BCA Gelar Buyback Saham 19–21 Oktober 2026, Pekerja Dilarang BertransaksiEkonomi Bali
DPRD Bali Usul Koordinasi Khusus dan Cek Stok Real-Time Cegah Krisis BBMEkonomi Bali
Beli iPhone 18 Pro Max Butuh 63 Hari Kerja bagi Pekerja Indonesia, Picodi CatatEkonomi Bali
Rupiah Tertekan ke Rp18.135 per Dolar AS, Harga Minyak Brent Capai US$116