BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen, Biaya Modal Pariwisata Bali Diuji
Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di 5,75 persen pada Rabu, 21 Oktober 2026, sambil menaikkan suku bunga deposit facility dan merencanakan pelonggaran giro wajib minimum. Sehari setelah rapat, kantor perwakilan BI di Bali memproyeksikan ekonomi pulau itu tumbuh hingga 5,9 persen pada 2026. Dua kabar ini penting bagi pelaku usaha pariwisata Bali yang bergantung pada pembiayaan perbankan.

DENPASAR, KULKUL — Bank Indonesia (BI) memutuskan tidak mengubah suku bunga acuan dan menahannya di 5,75 persen pada Rabu, 21 Oktober 2026 [6]. Bank sentral sekaligus menaikkan suku bunga deposit facility sebesar 25 basis poin [7].
Kenaikan itu membawa deposit facility dari 4,75 persen ke 5 persen [1]. Keputusan ini muncul ketika nilai tukar rupiah tertekan: pada 16 Oktober 2026 mata uang itu ditutup di Rp 18.052 per dolar AS, dengan depresiasi sepanjang tahun kalender 7,93 persen [1].
Di sisi likuiditas, BI menyiapkan penurunan giro wajib minimum bank konvensional pada November–Desember 2026. Langkah itu dimaksudkan menambah ruang likuiditas sekitar Rp190 triliun [1]. Penurunan rasio tersebut dimulai 1 November 2026 [7].
Para pelaku pasar menyambut keputusan itu. LQ45 naik 1,64 persen, dan sektor energi memimpin penguatan dengan 1,88 persen [7].
Insentif likuiditas makroprudensial yang diterima perbankan tercatat Rp 458,5 triliun, dengan Rp 336,4 triliun dialokasikan untuk Financing Channel [1]. Di tengah insentif itu, laju kredit justru melambat. Pada September 2026 kredit tumbuh 13,26 persen secara tahunan, turun dari 13,65 persen pada Agustus [1].
Plafon kredit yang belum ditarik debitur masih besar, yakni Rp 2.562,57 triliun atau 21,70 persen dari plafon tersedia [1]. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengingatkan arah penyaluran likuiditas tambahan. "Tambahan likuiditas tersebut tidak otomatis diterjemahkan menjadi penurunan bunga kredit. Sebab, bank tetap mempertimbangkan faktor-faktor yang memengaruhi penentuan suku bunga kredit," kata Josua Pardede [1].
Angka itu disampaikan Kepala Perwakilan BI Bali, Achris Sarwani, dalam Temu Wirasa Stakeholders 2026 di Denpasar pada Jumat, 23 Oktober 2026 [5].
Sebagai pembanding, ekonomi Bali tumbuh 5,82 persen pada 2025, 5,58 persen pada triwulan I 2026, dan 5,78 persen pada triwulan II 2026 [2]. Inflasi Bali diperkirakan tetap dalam rentang sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen [5].
Gubernur Bali Wayan Koster menyebut 66 persen ekonomi Bali digerakkan sektor pariwisata [2]. Kedatangan wisatawan mancanegara rata-rata 22.000 hingga 25.000 orang per hari [4]. Sepanjang 2025, wisatawan mancanegara yang tiba lewat jalur udara mencapai 7.050.000 orang, sedangkan wisatawan domestik 9,3 juta orang [3].
"Jadi sebenarnya yang ingin saya bangun agar ekonomi Bali berputar di Bali dari hulu sampai hilir," kata Wayan Koster [2]. Achris Sarwani menekankan pentingnya data: "Di setiap angka memiliki cerita," katanya [5].
Analisis redaksi
Tafsir Redaksi Kulkul atas fakta di atas, bukan bagian dari laporan.
Bagi pelaku pariwisata Bali, keputusan BI menahan suku bunga acuan berarti biaya modal belum bergerak turun dalam waktu dekat. Dengan sektor pariwisata menopang 66 persen ekonomi Bali [2], hotel, vila, restoran, dan penyedia jasa wisata yang mengandalkan kredit investasi dan modal kerja berpotensi masih menghadapi bunga pinjaman yang relatif tinggi. Peringatan Josua Pardede bahwa tambahan likuiditas tidak otomatis menurunkan bunga kredit [1] patut dicermati: pelonggaran giro wajib minimum sekitar Rp190 triliun [7] dapat memperlebar ruang bank menyalurkan kredit, tetapi belum tentu memangkas bunga yang dibebankan kepada debitur. Perlambatan kredit September 2026 dan plafon yang belum ditarik [1] juga menjadi pertanyaan, apakah permintaan pembiayaan yang lemah atau kehati-hatian perbankan yang lebih menentukan.
Di sisi lain, fondasi permintaan wisata tampak masih kuat. Kedatangan wisatawan mancanegara harian 22.000 hingga 25.000 orang [4] dan angka kunjungan 2025 yang jauh melampaui 2019 yang sebesar 6,28 juta orang [3] dapat menjadi dasar kemampuan usaha membayar cicilan. Namun, tekanan rupiah yang menjadi latar keputusan BI [1] berpotensi membuat biaya impor perlengkapan hotel dan restoran, serta kewajiban dalam valuta asing, lebih berat bagi usaha yang berutang dalam dolar. Insentif hedging yang disebut dalam judul beberapa pemberitaan patut dicermati pelaku usaha berutang valas, meski bahan yang ada belum memerinci skemanya. Apakah proyeksi 5,9 persen [2] tercapai tanpa beban pembiayaan yang menggerus margin usaha pariwisata akan bergantung pada seberapa cepat bank meneruskan kelonggaran likuiditas ke bunga kredit.
Sumber
- Kompas.id, “BI Ingin Jaga Rupiah, Tahan Bunga, dan Dorong Kredit” — kompas.id
- ANTARA News, “BI hitung proyeksi ekonomi Bali 2026 tumbuh hingga 5,9 persen” — m.antaranews.com
- ANTARA, “BI hitung proyeksi ekonomi Bali 2026 tumbuh hingga 5,9 persen” — antaranews.com
- ANTARA Bali, “BI proyeksikan ekonomi Bali 2026 tumbuh hingga 5,9 persen” — bali.antaranews.com
- NUSABALI.com, “BI Optimistis Ekonomi Bali Tumbuh 5,9 Persen pada 2026” — nusabali.com
- CNBC Indonesia, “BI Rate Ditahan: Ini 10 Negara dengan Suku Bunga Tertinggi di Dunia” — cnbcindonesia.com
- ANTARA News Jambi, “IHSG ditutup menguat ditopang keputusan BI pertahankan BI-Rate” — jambi.antaranews.com
Topik: Bank Indonesia, Bali
Baca juga
Ekonomi Bali
Koster Minta Mitra Korea Garap Konversi Kendaraan Listrik tanpa Bebani PenggunaEkonomi Bali
Arak Bali Terjual US$400 di Lelang Amal Las Vegas, Bali Luncurkan 11 Bus ListrikEkonomi Bali
Dirut Pertamina Janji Kelangkaan BBM Bali Tak Berulang, Keluhan Pertamax Kosong Masih AdaEkonomi Bali
Stok BBM Bali Dinaikkan ke 15 Hari, Kapal Ditambah Jadi Tujuh, Pertamax Masih Dikeluhkan