Kulkul

Kabar Bali, dari banjar sampai bandara

Mal Karnaphuli Garden City Dhaka Tutup Setelah 28 Tahun, Hanya 25 dari 198 Toko Tersisa

Mal Karnaphuli Garden City di Dhaka, Bangladesh, berhenti beroperasi setelah 28 tahun akibat penjualan yang menurun dan perubahan kebiasaan belanja warga. Per Oktober 2026 hanya 25 dari 198 toko yang masih buka, dan para pemilik sepakat menjual bangunan itu. Bahan yang tersedia hanya memuat kasus Dhaka; kaitannya dengan pusat perbelanjaan di Bali ditinjau dalam bagian analisis redaksi.

Redaksi KulkulTerbit Diperbarui 3 menit baca
Uang kertas Euro yang dijepit pada sebuah garis, melambangkan konsep keuangan seperti pencucian uang atau tabungan.
Ilustrasi · Foto: Pixabay / Pexels

DENPASAR, KULKUL — Karnaphuli Garden City, pusat perbelanjaan di kawasan Kakrail, Dhaka, Bangladesh, berhenti beroperasi setelah 28 tahun akibat penjualan yang menurun dan pergeseran gaya belanja masyarakat. Mal itu resmi dibuka pada 1998.

Per Oktober 2026, jumlah toko yang masih buka tinggal 25 dari sebelumnya 198 gerai. Angka itu setara penutupan sekitar 87,3 persen toko yang ada. Informasi tersebut bersumber dari laporan The Daily Star yang dirujuk sejumlah media Indonesia. Menurut Liputan6.com, mal ditutup total pada 1 Oktober.

Para pemilik toko memilih menjual properti itu. "Kami menjualnya. Semua pemilik toko membuat keputusan ini bersama," kata AKM Iqbal, Ketua Asosiasi Pemilik Toko di Karnaphuli Garden City.

Beberapa gerai di dekat pintu masuk masih dibuka agar uang sewanya bisa membayar kebutuhan pokok, termasuk gaji petugas keamanan dan manajer. Menurut Iqbal, para pemilik harus meminjam uang untuk menutup kekurangan biaya operasional itu.

"Saat ini, konsumen dapat membandingkan harga serta kualitas produk di berbagai toko maupun platform daring," ujar Iqbal. Dalam pernyataan lain, ia menyebut pembeli tidak lagi harus selalu mendatangi pusat perbelanjaan konvensional. Iqbal juga menyebut hadirnya pusat perbelanjaan baru dan toko bermerek ternama sebagai bagian dari perubahan pasar ritel Dhaka.

Mal ini menempati ruang bawah tanah dan empat lantai pertama dari bangunan setinggi 20 lantai yang dikembangkan Karnaphuli Group. Lantai di atasnya difungsikan sebagai apartemen, dan penghuninya tidak terdampak penutupan.

Dahulu mal ini memperdagangkan pakaian jadi, sepatu, kosmetik, dan perhiasan, serta memiliki pujasera sebagai fasilitas pendukung. Menurut Iqbal, bangunan itu bisa dialihfungsikan menjadi rumah sakit, pusat medis, stasiun TV, atau area kantor.

Mal ini bukan satu-satunya yang berada dalam tekanan. Sedikitnya 10 kompleks perbelanjaan tua di Dhaka disebut berada di ambang keputusan serupa karena pembeli semakin sepi. Namun tidak semua pengelola menyerah. Syed Sharif Uddin, Sekretaris Bersama Asosiasi Pemilik Concord Twin Tower di Shantinagar, menyatakan kompleksnya belum diputuskan tutup: "Kondisi bisnis memang sedang lesu, tetapi kami belum berencana menutup kompleks ini. Kami masih terus mencari cara untuk menarik pengunjung".

Analisis redaksi

Tafsir Redaksi Kulkul atas fakta di atas, bukan bagian dari laporan.

Pola yang tampak di Dhaka, menurut keterangan Iqbal, adalah kemudahan membandingkan harga dan kualitas secara daring yang berjalan bersamaan dengan munculnya mal baru dan toko bermerek. Kombinasi itu berpotensi membuat pengunjung berpindah, sehingga pusat perbelanjaan yang tidak segera memberi alasan untuk datang dapat kehilangan pelanggan. Pusat perbelanjaan di Bali, yang juga bersaing dengan kanal daring, patut mencermati bahwa tekanan di Dhaka tidak berasal dari satu faktor, melainkan beberapa sekaligus. Bahan yang tersedia tidak memuat data tentang kondisi mal di Bali, sehingga kesamaan itu sebatas pertanyaan, bukan kesimpulan.

Kasus ini juga menunjukkan bahwa kerapuhan keuangan dapat muncul sebelum penutupan resmi. Para pemilik harus berutang untuk menutup gaji petugas keamanan dan manajer meski sebagian gerai di pintu masuk masih menyewakan ruang. Hal ini dapat menjadi pertanyaan bagi pengelola mal mana pun, termasuk di Bali, tentang seberapa kuat arus kas bila jumlah penyewa berkurang. Rencana alih fungsi menjadi rumah sakit, pusat diagnosis, atau perkantoran memperlihatkan bahwa ruang ritel yang sepi masih dapat diberi peran baru, tetapi apakah opsi itu relevan bagi bangunan di Bali tidak dapat dipastikan dari bahan ini. Sikap pengelola Concord Twin Tower yang masih berupaya menarik pengunjung mengingatkan bahwa tekanan serupa belum tentu berujung penutupan di tempat lain.

Topik: Mal Karnaphuli Garden City

Baca juga

Terbaru