Edisi Minggu, 1 November 2026
Kulkul

Kabar Bali, dari banjar sampai bandara

Sinar Theatre Klungkung, Bioskop Primadona Era 1980-an yang Kini Jadi Dojang

Sinar Theatre, bioskop yang berjaya pada era 1980-an di Kota Semarapura, Kabupaten Klungkung, Bali, sudah puluhan tahun tidak beroperasi. Saat didatangi pada 31 Oktober 2026, bangunan di Jalan Flamboyan itu dipakai sebagai dojang Taekwondo Bintang Muda Club (BMC) Klungkung, dengan sisa perangkat bioskop yang masih tersimpan di dalamnya.

Redaksi KulkulTerbit Diperbarui 2 menit baca
Gambar close-up tangan yang sedang merangkai persembahan bunga Bali dalam sebuah upacara budaya, yang menampilkan tradisi.
Ilustrasi · Foto: Agung Pandit Wiguna / Pexels

DENPASAR, KULKUL — Sinar Theatre, bioskop yang pernah menjadi primadona Klungkung pada era 1980-an, kini tidak lagi memutar film. Gedung yang berdiri di jantung Kota Semarapura, Kabupaten Klungkung, Bali, itu sudah puluhan tahun berhenti beroperasi sebagai bioskop.

Bangunan tersebut berlokasi di Jalan Flamboyan. Saat didatangi pada 31 Oktober 2026, gedung itu dimanfaatkan sebagai dojang Taekwondo Bintang Muda Club (BMC) Klungkung.

Putu Surya Adinatha, cucu pemilik bioskop, menjadi pelatih sekaligus pengurus dojang tersebut. "Sekarang ya seperti ini. Saya manfaatkan sebagai dojang Taekwondo Bintang Muda Club (BMC) Klungkung," kata Putu Surya Adinatha.

Bagi warga senior Klungkung, Sinar Theatre dahulu adalah pusat hiburan termegah untuk menghabiskan malam Minggu. Pada masa jayanya, penonton mengantre panjang sampai ke halaman luar gedung.

Jejak masa lalu masih terlihat di sejumlah sudut bangunan. Ruang operator proyektor menyimpan dua mesin pemutar film analog berukuran besar yang puluhan tahun tak dijalankan dan kini berselimut debu tebal.

Di area loket, ornamen panel kayu bergaris diagonal masih terpasang. Papan nama bertuliskan SINAR theatre KLUNGKUNG dan papan status pemutaran film juga masih ada.

Ruang arsip menyimpan gulungan pita seluloid film analog dan sebuah koper tua yang berdebu.

Di bagian dalam gedung juga tersisa sarang burung walet. Bekas bioskop itu sempat dijadikan tempat budidaya sarang burung walet.

Meski fungsinya berubah, gedung ini tetap melekat di ingatan warga. "Kalau sebut bekas bioskop, semua pasti tahu tempat ini," kata Putu Surya Adinatha.

Analisis redaksi

Tafsir Redaksi Kulkul atas fakta di atas, bukan bagian dari laporan.

Rangkaian fakta ini menunjukkan bahwa Sinar Theatre kini lebih berfungsi sebagai penanda ingatan kolektif daripada sebagai tempat hiburan. Ucapan Putu Surya Adinatha bahwa semua orang tahu tempat itu sebagai bekas bioskop sejalan dengan gambaran warga senior yang mengenangnya sebagai pusat hiburan termegah untuk malam Minggu. Hal ini berpotensi memperlihatkan bahwa nilai gedung bagi warga tidak hilang meski layarnya telah padam.

Pergeseran fungsi menjadi dojang Taekwondo, sementara mesin proyektor analog, pita seluloid, papan loket, dan poster lama masih tersimpan, patut dicermati sebagai contoh ketika pemanfaatan baru berjalan berdampingan dengan sisa-sisa fungsi lama. Penyebab berhentinya bioskop, yakni persaingan dengan kaset rekaman, teknologi digital, dan televisi swasta, dapat dibaca sebagai gambaran bagaimana perubahan cara orang menonton menggeser tempat hiburan yang dahulu ramai. Apakah benda-benda peninggalan itu akan dirawat sebagai bagian dari sejarah Klungkung menjadi pertanyaan yang layak diikuti.

Topik: Sinar Theatre, Klungkung

Baca juga

Terbaru