Koster Minta Mitra Korea Garap Konversi Kendaraan Listrik tanpa Bebani Pengguna
Gubernur Bali Wayan Koster menerima Duta Besar Korea untuk Indonesia Yoon Soon-gu di Denpasar pada Jumat (23/10/2026). Dalam pertemuan itu Koster menjajaki dukungan Korea Selatan bagi konversi kendaraan konvensional menjadi listrik tanpa menambah beban pengguna. Pertemuan berlangsung sehari setelah Bali menerima hibah 11 bus listrik dan enam stasiun pengisian daya dari Pemerintah Korea.

Pertemuan itu digelar di rumah jabatan gubernur, Jayasabha, Denpasar, pada Jumat (23/10/2026) [3].
Hibah itu disalurkan lewat Bappenas, dan serah terima armada dilakukan di Denpasar [4].
Koster menjelaskan bahwa Pemprov Bali sedang mempercepat kebijakan energi bersih, termasuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai [1]. Ia berharap Korea Selatan ikut mendukung program konversi lewat kerja sama teknologi, investasi, dan penyediaan infrastruktur penunjang [1].
"Kami terus mendorong kebijakan ini. Saya sangat membutuhkan pihak ketiga yang tertarik melakukan konversi kendaraan konvensional menjadi kendaraan listrik tanpa menimbulkan beban bagi pengguna," kata Gubernur Koster [1].
Bantuan bus dan fasilitas pengisian daya itu dinilai Koster sebagai pemantik untuk mempercepat pengembangan angkutan umum berenergi bersih di Bali [1]. Menurut dia, kebijakan kendaraan listrik berbasis baterai akan dipercepat di Bali [4].
Alasan ekonomi turut disebut Koster. Untuk rute Denpasar-Singaraja pulang pergi, ongkos BBM mencapai Rp500.000, sedangkan pengisian daya baterai pada rute yang sama hanya Rp140.000 [4]. Dari sisi lingkungan, hasil studi menunjukkan lebih dari 90 persen polusi udara di Bali bersumber dari pembangkit dan kendaraan berbahan bakar fosil [4].
Dari sisi Korea Selatan, Dubes Yoon menilai komitmen Bali sejalan dengan target negaranya mencapai netralitas karbon pada 2050 [2]. Yoon juga menyampaikan rencana pembukaan konsulat Korea Selatan di Bali untuk memperkuat pelayanan dan perlindungan warga negaranya [3].
Kerja sama kedua pihak bermula dari kunjungan Wakil Menteri Perhubungan Korea ke Bali, lalu dibalas kunjungan Gubernur Bali ke Korea Selatan pada Desember 2025 [4]. Pergub itu sempat tertunda penerapannya akibat pandemi COVID-19 sejak 2020 hingga fase pemulihan ekonomi pada 2023 [4].
Selain kendaraan listrik, pertemuan menyentuh peluang kerja sama di bidang teknologi digital, kota cerdas, industri kreatif, pengelolaan lingkungan, dan keamanan pariwisata [1]. Koster membuka peluang pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan untuk kota cerdas [1]. "Kami sangat mengikuti perkembangan teknologi digital dan AI di Korea. Teknologi ini bisa sangat berperan nantinya untuk menjaga kualitas kepariwisataan Bali," kata Koster [2].
Di sektor ekonomi lokal, Koster menyebut kerja sama teknologi dapat mengerek mutu, nilai tambah, dan daya saing produk UMKM serta industri kecil dan menengah Bali [1]. Ia juga berharap keberhasilan industri K-pop menjadi inspirasi bagi seniman dan pelaku industri kreatif di Pulau Dewata [1].
Soal keamanan, Koster menegaskan koordinasi dengan TNI dan Polri terus diperkuat untuk menjaga ketertiban kawasan wisata [1]. "Saya berharap berbagai instansi terkait di Bali terus bekerja sama dan berkoordinasi dengan baik untuk menjaga keamanan bersama," kata Yoon Soon-gu [3].
Analisis redaksi
Tafsir Redaksi Kulkul atas fakta di atas, bukan bagian dari laporan.
Permintaan Koster kepada pihak ketiga agar konversi kendaraan tidak membebani pengguna menyingkap persoalan yang belum terjawab di bahan: siapa yang menanggung biaya awal pengubahan kendaraan [1]. Selisih ongkos Rp500.000 dengan Rp140.000 untuk satu rute pulang pergi [4] berpotensi menjadi daya tarik bagi pemilik kendaraan, terutama pelaku usaha angkutan. Namun besaran biaya konversi tidak dimuat dalam bahan, sehingga seberapa cepat penghematan operasional dapat menutup ongkos peralihan masih menjadi pertanyaan.
Dari sisi pariwisata, Koster mengaitkan teknologi digital dan AI dengan upaya menjaga kualitas kepariwisataan Bali [2], sementara hibah bus listrik dan enam stasiun pengisian daya dapat menjadi contoh awal angkutan umum rendah emisi [3]. Rencana konsulat Korea Selatan di Bali [2] berpotensi mempererat hubungan, termasuk dalam hal perlindungan warga negara yang berkunjung. Sejauh mana semua itu berujung pada investasi nyata di pulau ini patut dicermati, karena bahan baru memuat harapan dan penjajakan, belum komitmen angka.
Sumber
- Kabarindoraya.com, “Jalin Kerja Sama, Gubernur Bali Terima Dubes Korea untuk Indonesia” — kabarindoraya.com
- ANTARA, “Koster bahas konversi kendaraan listrik saat kunjungan Dubes Korea” — antaranews.com
- NusaBali, “Koster Jajaki Kerja Sama dengan Korea Selatan, dari Kendaraan Listrik hingga Keamanan Pariwisata” — nusabali.com
- ANTARA Bali, “Bali percepat transisi penggunaan kendaraan listrik usai terima hibah bus Korea” — bali.antaranews.com
Topik: Gubernur Bali, Bali, Korea
Baca juga
Ekonomi Bali
BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen, Biaya Modal Pariwisata Bali DiujiEkonomi Bali
Arak Bali Terjual US$400 di Lelang Amal Las Vegas, Bali Luncurkan 11 Bus ListrikEkonomi Bali
Dirut Pertamina Janji Kelangkaan BBM Bali Tak Berulang, Keluhan Pertamax Kosong Masih AdaEkonomi Bali
Stok BBM Bali Dinaikkan ke 15 Hari, Kapal Ditambah Jadi Tujuh, Pertamax Masih Dikeluhkan