Kulkul

Kabar Bali, dari banjar sampai bandara

Peneliti Karangasem Kaji Kulit Salak Bali sebagai Bahan Antibakteri Alami

I Gusti Ayu Satwika Dewi, pranata laboratorium kesehatan asal Celuk Negara, Karangasem, meneliti kulit salak Bali sebagai bahan alami yang berpotensi antibakteri. Penelitian itu baru berjalan sekitar 30 persen. Satwika juga masuk lima besar seleksi ASN Inspiratif Kabupaten Karangasem setelah wawancara pada Jumat (30/10/2026).

Redaksi KulkulTerbit Diperbarui 2 menit baca
Dekat dari kipas uang kertas 10 euro di latar belakang putih bersih, menampilkan mata uang Eropa.
Ilustrasi · Foto: Dom J / Pexels

DENPASAR, KULKUL — Kulit salak Bali, yang selama ini kerap dibuang setelah buahnya dimakan, digali kemungkinannya sebagai bahan alami antibakteri oleh I Gusti Ayu Satwika Dewi. Ia mengkaji senyawa bioaktif di dalam kulit salak sebagai bahan dasar penelitian terkait bakteri.

Satwika berprofesi sebagai Pranata Laboratorium Kesehatan Ahli Pertama di UPTD Laboratorium Kesehatan milik pemerintah kabupaten setempat, Karangasem. Ia berasal dari Celuk Negara, Kelurahan Karangasem.

Penelitian tersebut masih dalam tahap pengembangan, dengan capaian sekitar 30 persen. "Kulit salak Bali memiliki potensi untuk dikembangkan dan diteliti lebih jauh. Prosesnya masih 30 persen," kata I Gusti Ayu Satwika Dewi.

Di luar penelitian, Satwika aktif mengajar dan membentuk Kombel (Kelompok Belajar), wadah untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman. Ia menyebut keyakinannya soal inovasi. "Saya percaya inovasi memang harus dimulai dari keberanian untuk mencoba," kata I Gusti Ayu Satwika Dewi.

Satwika lolos ke lima besar seleksi ASN Inspiratif Kabupaten Karangasem yang digelar BKPSDM Karangasem. Tim independen mewawancarainya di Kantor BKPSDM Karangasem pada Jumat (30/10/2026).

Catatan prestasinya mencakup penghargaan ASN Berprestasi pada 2023 dan 2024. Pada 2026 ia menerima penghargaan ASN Teladan.

Analisis redaksi

Tafsir Redaksi Kulkul atas fakta di atas, bukan bagian dari laporan.

Penelitian ini berangkat dari bahan yang selama ini lebih sering berakhir sebagai limbah. Bila senyawa bioaktif dalam kulit salak terbukti bermanfaat, limbah tersebut berpotensi memiliki nilai guna baru. Namun tahap penelitian yang baru sekitar 30 persen menunjukkan bahwa klaim antibakteri masih berupa potensi, sehingga hasilnya patut dicermati dengan hati-hati.

Latar Satwika sebagai pranata laboratorium kesehatan dapat menjadi modal bagi arah penelitiannya, karena pekerjaannya sehari-hari berkaitan dengan laboratorium. Kegiatannya mengajar dan membangun Kombel juga berpotensi menjadi sarana berbagi pengetahuan. Masuknya ia ke lima besar ASN Inspiratif dapat menarik perhatian pada riset ini, meski keberlanjutannya bergantung pada kelanjutan pengembangan di laboratorium.

Topik: Satwika, Bali

Baca juga

Terbaru