Maskapai AS Pertahankan Tarif Tinggi di Tengah Lonjakan Bahan Bakar Jet
Pemeriksaan penumpang di bandara AS pun turun, tetapi para eksekutif menyebut kenaikan hasil per kursi bisa bertahan. Bahan tidak memuat data soal Bali, sehingga dampaknya bagi biaya operasional pariwisata pulau itu baru dapat dibaca sebagai tafsir.

DENPASAR, KULKUL — Maskapai-maskapai besar di Amerika memilih menjaga tarif tetap tinggi daripada menurunkannya demi mengisi kursi, di tengah mahalnya bahan bakar jet. Strategi itu dilakukan untuk melindungi laba [2].
Biang keladinya adalah avtur. Harganya naik sekitar 90% sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada Februari [2]. Harga spot di Gulf Coast bergerak dari 2,43 dolar AS per galon sebelum perang menjadi 4,63 dolar AS pada 20 Oktober [2].
Tarif pun terdorong naik. Sepanjang tujuh bulan hingga September, harga tiket di sana rata-rata melonjak hampir 23% dibanding tahun sebelumnya, jauh di atas kenaikan harga konsumen yang tercatat 3,6% [2]. Khusus September, harga tiket naik lebih dari 22% secara tahunan [1].
Permintaan mulai tertekan. Selama kuartal ketiga, jumlah orang yang diperiksa petugas keamanan bandara berkurang 2,9% dari tahun sebelumnya [2]. Sejak April hingga Kamis lalu, ada sekitar 9,3 juta pemeriksaan yang hilang dibanding periode sama 2025, dan tahun ini diproyeksikan menjadi penurunan tahunan pertama sejak 2020 [1].
Di sisi maskapai, angka pendapatan justru menguat. Lima maskapai besar mencatat kenaikan pendapatan penumpang hampir $8,8 miliar, atau 18%, pada kuartal ketiga [2]. United Airlines membawa 2,4% lebih banyak penumpang dengan pendapatan per unit naik 16% [1]. Penumpang Southwest turun 3,2% menjadi sekitar 33,5 juta, tetapi rata-rata tarifnya mencapai 231,69 dolar AS, naik hampir 50 dolar AS dari setahun sebelumnya [1].
American Airlines menjadi contoh paling terang. Faktor bebannya turun menjadi 83,4% dari 86% [1], dan maskapai ini satu-satunya dari empat maskapai besar yang memperkirakan merugi tahun ini [1]. "Jika bahan bakar tetap tinggi, kami harus terus mendorong hasil (yield) naik agar kami bisa mendapatkan sedikit uang," kata Chief Financial Officer American Airlines, Devon May [2]. Ia juga menilai, "Kami pikir kenaikan hasil (yield) ini sangat berkelanjutan," kata Devon May [2].
Beban bahan bakar belum tentu mereda. United memperkirakan membayar rata-rata 4,80 dolar AS per galon pada kuartal keempat, dari 3,90 dolar AS pada kuartal ketiga [1]. JetBlue memulai kenaikan tarif domestik $10 per satu arah, lalu diikuti United dan Southwest [2].
Analisis redaksi
Tafsir Redaksi Kulkul atas fakta di atas, bukan bagian dari laporan.
Seluruh bahan berasal dari pasar penerbangan domestik di Amerika dan tidak memuat data tentang rute, tarif, maupun jumlah wisatawan ke Bali, sehingga hubungan dengan pulau ini hanya dapat dibaca sebagai tafsir. Pola yang tampak, yakni maskapai lebih mengutamakan hasil per kursi daripada keterisian [1][2], berpotensi menjadi acuan bagi strategi tarif di pasar lain bila tekanan avtur bertahan. Bagi Bali, yang bergantung pada kedatangan lewat udara, tarif tinggi yang kian dianggap wajar dapat menggeser hitungan perjalanan wisatawan dan ikut menekan margin pelaku usaha yang menjual paket perjalanan.
Dari sisi biaya, kenaikan avtur sekitar 90% [2] menunjukkan betapa besar komponen bahan bakar dalam struktur biaya maskapai, dan para eksekutif menyebut sebagian besar kenaikan itu diteruskan ke penumpang lewat tarif [1]. Patut dicermati apakah beban serupa kelak berpindah ke biaya operasional hotel, agen perjalanan, dan penyedia transportasi wisata di Bali. Menjadi pertanyaan pula apakah volume kunjungan akan bertahan seperti klaim para eksekutif [2], mengingat jumlah pemeriksaan penumpang di AS justru menurun [1]. Tanpa data lokal, kesimpulan tegas belum dapat ditarik.
Sumber
- CNBC, “Fewer people are flying as airfare soars. Here's why airlines aren't worried” — cnbc.com
- NBC News, “U.S. airlines favor higher fares over fuller planes as fuel costs squeeze profits” — nbcnews.com
Baca juga
Ekonomi Bali
Rekening Gratis Rp50 Ribu Resmi Diumumkan, Klaim HP Gratis Lewat Tautan Terbukti HoaksEkonomi Bali
Brent Tembus US$116 per Barel, Tertinggi Sejak April; Bali Hadapi Risiko Biaya OperasionalEkonomi Bali
BSU Oktober-Desember 2026 Rp900.000 Belum Final, Kriteria dan Jadwal Cair DitungguEkonomi Bali
Dividen Rp50,63 Triliun dan Buyback Mandiri: Kredit Bali-Nusa Tenggara Tumbuh 10,3 Persen, Dampak ke Likuiditas Bank Bali Belum Terjawab