Brent Tembus US$116 per Barel, Tertinggi Sejak April; Bali Hadapi Risiko Biaya Operasional
Harga minyak mentah Brent ditutup di US$116,72 per barel pada Jumat (23/10), level tertinggi dalam enam bulan, setelah serangan terhadap fasilitas energi di Arab Saudi dan kekhawatiran eskalasi konflik AS-Iran. Lonjakan ini berpotensi menekan biaya bahan bakar dan angkutan, termasuk bagi sektor pariwisata dan logistik Bali yang bergantung pada pasokan dari luar pulau.

DENPASAR, KULKUL — Harga minyak mentah Brent menembus US$116 per barel pada penutupan perdagangan Jumat (23/10), tertinggi sejak akhir April. Kontrak berjangka Brent naik 3,1% ke US$116,72, sedangkan West Texas Intermediate (WTI), patokan harga minyak Amerika Serikat, menguat 3,8% ke US$103,27 per barel [1].
Penguatan hari Jumat melanjutkan tren yang sudah berjalan sepekan penuh. Brent naik 6,2% dalam ssepekan, kenaikan mingguan ketiga secara beruntun, sedangkan WTI naik 2% [1]. Kontrak Brent untuk pengiriman Desember ditutup di US$116,72, dan WTI ditutup di atas US$103 [3].
Pemicu utamanya adalah memburuknya situasi keamanan di kawasan Teluk. Serangan drone ke ladang minyak Shaybah pada Rabu menewaskan dua orang dan melukai dua orang lainnya, sementara serangan ke Bandara Internasional King Fahd di Dammam menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai delapan orang [1].
Washington juga meningkatkan kewaspadaan. Departemen Luar Negeri AS memerintahkan seluruh personel non-esensial meninggalkan Arab Saudi [1]. Presiden Donald Trump menyatakan pada Rabu bahwa AS tidak bernegosiasi dengan Iran dan bahwa sesuatu akan terjadi "cukup segera," kata Trump [1].
Pasar juga mencermati kabar rencana militer. Investor memperkirakan Washington akan melanjutkan serangan terhadap Iran, dan ekspektasi itulah yang mendorong harga ke level tertinggi enam bulan [1].
Sehari sebelumnya, harga sempat bergerak tipis. Pada perdagangan Jumat pagi, Brent turun 21 sen atau 0,2% ke US$112,96 per barel setelah melonjak sekitar 4% pada Kamis ke level tertinggi sejak 4 Mei [2]. Dari sisi pasokan, katup pipa minyak yang menghubungkan ladang Hamada dan Tahara dengan pelabuhan Zawiya di Libya dilaporkan ditutup [2].
Di pasar bahan bakar Amerika Serikat, dampak lonjakan sudah terlihat. Harga bensin nasional pada Jumat berada di US$4,29 per galon dan solar sekitar US$6,31 per galon, sementara pemadaman listrik di sebuah kilang di area Chicago diperkirakan menaikkan harga bahan bakar olahan [3]. "Anda akan melihat banyak harga bensin $5 di tempat seperti Michigan, Ohio, Minnesota, Illinois, dan Indiana," kata Tom Kloza, penasihat energi utama Gulf Oil [3].
Rusia merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga dunia pada 2025, setelah AS dan Arab Saudi [2].
Analisis redaksi
Tafsir Redaksi Kulkul atas fakta di atas, bukan bagian dari laporan.
Bahan yang terkumpul tidak memuat data harga bahan bakar, tarif angkutan, atau kondisi sektor pariwisata di Bali, sehingga dampak langsung ke pulau ini belum dapat dipastikan. Konteks yang ada adalah harga minyak mentah yang naik tiga pekan beruntun dan mencapai level tertinggi sejak April [1]. Bagi Bali, yang pasokan pangan, bahan bangunan, dan kebutuhan hotel serta restoran bergantung pada angkutan darat dan laut, kenaikan harga bahan bakar berpotensi menambah biaya distribusi. Biaya itu dapat berimbas pada harga bahan baku dan akhirnya margin pelaku usaha penginapan dan kuliner.
Perkembangan di AS menjadi gambaran bagaimana kenaikan minyak mentah dapat menjalar ke produk olahan. Solar di AS berada di sekitar US$6,31 per galon dan harga bahan bakar olahan masih dapat naik akibat gangguan kilang [3]. Solar adalah bahan bakar utama truk logistik dan kapal pengangkut, sehingga pergerakan harganya menjadi indikator penting bagi sektor yang bergantung pada angkutan barang. Pertanyaan yang patut dicermati ialah seberapa jauh dan seberapa cepat kenaikan ini diteruskan ke harga di dalam negeri. Hal itu bergantung pada lamanya gangguan di kawasan Teluk, yang masih diwarnai ancaman serangan lanjutan [1][3], serta pada ada tidaknya redanya ketegangan. Pelaku wisata dan logistik di Bali berpotensi perlu menyiapkan skenario biaya yang lebih tinggi sambil menunggu arah perkembangan pekan-pekan mendatang.
Sumber
- CNBC, “Brent crude oil tops $116, a six-month high, as tensions swell in the Middle East” — cnbc.com
- CNN Indonesia, “Harga Minyak Mulai Melandai usai Melonjak 4 Persen Gara-gara Houthi” — cnnindonesia.com
- Yahoo Finance, “Brent crude tops $116 as traders price escalating Middle East conflict” — finance.yahoo.com
Baca juga
Ekonomi Bali
Rekening Gratis Rp50 Ribu Resmi Diumumkan, Klaim HP Gratis Lewat Tautan Terbukti HoaksEkonomi Bali
BSU Oktober-Desember 2026 Rp900.000 Belum Final, Kriteria dan Jadwal Cair DitungguEkonomi Bali
Dividen Rp50,63 Triliun dan Buyback Mandiri: Kredit Bali-Nusa Tenggara Tumbuh 10,3 Persen, Dampak ke Likuiditas Bank Bali Belum TerjawabEkonomi Bali
Penipuan Cek Menguat di AS; Bahan Tak Memuat Data Bali, Pelajaran Risikonya Dibaca sebagai Peringatan