Kulkul

Kabar Bali, dari banjar sampai bandara

Arus Modal Asing Berbalik Arah, Stabilitas Pasar Saham dan Rupiah Jadi Sorotan

Investor asing kembali mencatatkan net buy di Bursa Efek Indonesia pada Rabu (28/10/2026) setelah delapan hari berturut-turut melakukan net sell, dengan total nilai mencapai Rp 664,24 miliar. Pergerakan ini terjadi di tengah kekhawatiran terhadap potensi outflow asing yang lebih besar hingga akhir tahun serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Fokus pasar kini beralih ke saham-saham perbankan besar yang menjadi primadona pembelian asing, khususnya BBCA, di tengah dinamika makroekonomi yang masih fluktuatif.

Redaksi KulkulTerbit Diperbarui 3 menit baca
Uang kertas lima dan sepuluh pound Inggris close-up dengan latar belakang kabur.
Ilustrasi · Foto: Clément Proust / Pexels

DENPASAR, KULKUL —

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada perdagangan Rabu (28/10/2026) setelah mengalami tekanan jual selama dua hari sebelumnya. Pergerakan ini didorong oleh masuknya kembali dana asing ke pasar domestik, yang menjadi pendorong utama likuiditas dan sentimen positif di sektor ekuitas.

Kebalikan arus modal asing menjadi sorotan utama, di mana investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp 664,24 miliar di seluruh pasar [1]. Sebelumnya, pada Selasa (27/10), posisi asing masih ditutup dengan net sell sebesar Rp 708,88 miliar [4]. Pergeseran ini menandai perubahan sikap pelaku pasar internasional terhadap aset Indonesia, meskipun volume transaksi harian masih menunjukkan dominasi saham yang melemah dibandingkan yang menguat [1].

Selain BBCA, saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) juga masuk dalam daftar saham dengan net buy terbesar asing, masing-masing senilai Rp 300,25 miliar dan Rp 114,6 miliar [1]. Pergerakan naik BBCA mencapai 4,08% atau 200 poin ke level 5.100 pada sesi pertama, menunjukkan ketahanan harga di tengah volatilitas pasar [5].

Di sisi lain, saham perbankan negara masih mendominasi daftar top net sell asing. Demikian pula dengan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang mencatatkan net sell Rp 430,1 miliar [4]. Hal ini sejalan dengan data pada Selasa (27/10) di mana BMRI dan TLKM juga menjadi pemimpin daftar top sell asing [2].

Meskipun terjadi inflow asing pada Rabu, kekhawatiran terhadap outflow jangka panjang masih ada.

Proyeksi ini didasarkan pada risiko penjualan pasif terkait perubahan indeks MSCI, di mana MUFG memperkirakan potensi penjualan mencapai US$ 3,1 miliar dan Goldman Sachs memperkirakan US$ 5,5 miliar [3].

Nilai tukar rupiah juga mengalami tekanan. Pelemahan ini mencerminkan sensitivitas mata uang domestik terhadap arus keluar modal asing yang signifikan.

Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures, menyatakan bahwa masih terbuka potensi outflow bertambah, meskipun besarnya akan sangat bergantung pada perkembangan sentimen pasar dan respons investor terhadap reformasi pasar modal [3]. Hal ini menunjukkan bahwa stabilitas pasar tidak hanya ditentukan oleh inflow harian, tetapi juga oleh kepercayaan jangka panjang terhadap kebijakan regulator.

Perspektif pasar menunjukkan bahwa meskipun ada pemulihan harian, tekanan outflow asing masih menjadi risiko utama.

Analisis ekonomi menunjukkan bahwa arus modal asing yang fluktuatif berdampak langsung pada stabilitas nilai tukar dan likuiditas pasar saham. Masuknya dana asing dalam jumlah besar pada hari tertentu dapat menutupi tekanan outflow, namun akumulasi net sell yang tinggi sepanjang tahun tetap menjadi tantangan. Kebijakan BI dalam menjaga stabilitas rupiah dan respons pasar terhadap reformasi sektor modal akan menjadi penentu arah pasar ke depan.

Analisis redaksi

Tafsir Redaksi Kulkul atas fakta di atas, bukan bagian dari laporan.

Pergerakan arus modal asing yang berbalik arah pada Rabu (28/10/2026) menjadi indikator penting bagi stabilitas pasar keuangan domestik. Meskipun investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp 664,24 miliar [1], hal ini tidak serta merta menghilangkan kekhawatiran terhadap tekanan outflow jangka panjang. Data menunjukkan bahwa akumulasi net sell asing sejak awal tahun telah mencapai Rp 94,87 triliun [3]. Risiko penjualan pasif terkait perubahan indeks MSCI, yang diperkirakan mencapai US$ 3,1 miliar oleh MUFG dan US$ 5,5 miliar oleh Goldman Sachs [3], menjadi faktor eksternal yang patut dicermati. Pelemahan rupiah ke level Rp 18.080 per dolar AS [3] juga mencerminkan sensitivitas mata uang terhadap arus keluar modal ini.

Di sisi lain, dominasi saham perbankan dalam transaksi asing, baik buy maupun sell, menunjukkan bahwa sektor keuangan masih menjadi barometer kepercayaan investor. BBCA yang menjadi top net buy [4] dan BMRI yang menjadi top net sell [4] mencerminkan rotasi dana di dalam sektor yang sama. Laba bersih BBCA yang tumbuh 9% secara tahunan memberikan fundamental yang kuat, namun target harga Rp 8.600 masih jauh dari harga pasar saat ini, menunjukkan potensi koreksi atau akumulasi jangka panjang. Stabilitas pasar ke depan sangat bergantung pada respons investor terhadap reformasi pasar modal [3] dan kemampuan regulator dalam menjaga kepercayaan asing di tengah ketidakpastian global.

Sumber

  1. kontan.co.id, “Asing Kembali Masuk Bursa Saham RI, Cermati Saham Net Buy Terbesar, Rabu (28/10)” — investasi.kontan.co.id
  2. IDNFinancials, “Outflow asing turun, saham BUMN masih mendominasi top net sell” — idnfinancials.com
  3. KONTAN, “Net Sell Asing Deras, Proyeksi Outflow Bisa Capai Rp 119,87 Triliun di Akhir 2026” — insight.kontan.co.id
  4. IDNFinancials, “Inflow asing Rp257 miliar, BBCA top net buy senilai Rp1,17 triliun” — idnfinancials.com
  5. Kompas.com, “Saham BBCA Menguat 4,08 Persen, Masih Berpeluang Pulih?” — money.kompas.com

Baca juga