Anggaran Film Adaptasi Elden Ring Naik Jadi Rp 3,6 Triliun, Masuk Daftar Film Termahal A24
Film live-action adaptasi game Elden Ring yang digarap oleh A24 dilaporkan memiliki lonjakan anggaran produksi hingga hampir 200 juta dolar AS atau sekitar Rp 3,6 triliun. Angka ini menjadikan proyek tersebut salah satu film termahal yang pernah diproduksi oleh studio indie A24, melampaui biaya produksi film Marty Supreme. Film yang disutradarai Alex Garland ini dijadwalkan tayang pada Maret 2028 setelah menyelesaikan proses pengambilan gambar.

DENPASAR, KULKUL — Anggaran produksi film live-action adaptasi game Elden Ring mengalami kenaikan signifikan, kini diperkirakan mencapai hampir 200 juta dolar AS atau setara dengan Rp 3,6 triliun [1]. Lonjakan biaya ini menjadikan proyek tersebut masuk dalam kategori film termahal yang pernah diproduksi oleh studio A24 [4]. Sebelumnya, rekor film termahal milik A24 dipegang oleh Marty Supreme dengan anggaran sekitar 70 juta dolar AS atau Rp 1,2 triliun [1]. Film Civil War karya Alex Garland juga tercatat menghabiskan biaya sekitar 50 juta dolar AS atau Rp 906 miliar [4].
Film yang ditulis dan disutradarai oleh Alex Garland ini dijadwalkan tayang di bioskop dan IMAX pada 3 Maret 2028 [2]. Proses pengambilan gambar dilaporkan telah selesai pada awal Agustus 2026, menandai peralihan produksi ke tahap pasca produksi [3]. Informasi mengenai rampungnya syuting muncul dari postingan Sean Schofield, penata properti film, sebelum konten tersebut dihapus dari akun Instagramnya [4].
Anggaran film ini meningkat drastis dari perkiraan awal sebesar 100 juta dolar AS atau sekitar Rp 1,8 triliun [1]. Kenaikan anggaran ini belum diumumkan secara resmi oleh A24 maupun Bandai Namco [4]. Alex Garland menulis naskah sepanjang 160 halaman untuk meyakinkan Hidetaka Miyazaki agar proyek ini dapat berjalan [3].
Analisis redaksi
Tafsir Redaksi Kulkul atas fakta di atas, bukan bagian dari laporan.
Lonjakan anggaran film adaptasi Elden Ring hingga hampir 200 juta dolar AS atau sekitar Rp 3,6 triliun [1] menandai pergeseran strategi ekonomi di industri hiburan global, khususnya dalam konteks properti intelektual (IP) game yang diadaptasi ke layar lebar. Angka ini menempatkan film tersebut di posisi yang sangat tinggi dalam skala biaya produksi A24, melampaui Marty Supreme yang sebelumnya menjadi film termahal studio tersebut dengan anggaran 70 juta dolar AS atau Rp 1,2 triliun [1]. Kenaikan anggaran dari perkiraan awal 100 juta dolar AS menjadi hampir 200 juta dolar AS [1] menunjukkan adanya eskalasi risiko finansial yang signifikan. Dalam ekonomi kreatif, biaya produksi yang melonjak dua kali lipat biasanya mengindikasikan kompleksitas visual effects, skala produksi, atau negosiasi talenta yang lebih tinggi, yang pada gilirannya menuntut target pendapatan yang jauh lebih besar untuk mencapai titik impas.
Posisi A24 sebagai studio yang dikenal dengan film-film indie dengan anggaran terbatas menjadi konteks penting dalam analisis ini. Dengan anggaran film Civil War yang tercatat sekitar 50 juta dolar AS atau Rp 906 miliar [4], lonjakan anggaran Elden Ring menjadi anomali yang patut dicermati. Namun, ketergantungan pada satu IP besar dengan biaya produksi tinggi juga membawa risiko likuiditas yang lebih besar jika penerimaan box office tidak sesuai ekspektasi. Jadwal tayang pada Maret 2028 [2] memberikan waktu bagi studio untuk melakukan pemasaran global, namun tekanan untuk mengembalikan investasi sebesar Rp 3,6 triliun [1] akan menjadi tantangan ekonomi yang serius bagi distributor dan studio dalam model bisnis film modern.
Sumber
- detikInet, “Anggaran Film Elden Ring Melonjak, Kini Hampir Mencapai Rp 3,6 Triliun” — inet.detik.com
- The Lazy Media, “Film Elden Ring Dilaporkan Punya Budget Rp3,2 Triliun” — thelazy.media
- Gamebrott.com, “Biaya Produksi Adaptasi Elden Ring Hampir 200 Juta US Dollar!” — gamebrott.com
- Demokratis.co.id, “Anggaran Film Elden Ring Naik Mendekati 200 Juta Dolar AS” — demokratis.co.id
Topik: Elden Ring
Baca juga
Ekonomi Bali
Saldi Isra Soroti Literasi Pemuda dan Kekhawatiran Ketergantungan AIEkonomi Bali
Arus Modal Asing Berbalik Arah, Stabilitas Pasar Saham dan Rupiah Jadi SorotanEkonomi Bali
Kinerja Astra Kuartal III 2026: Otomotif Tumbuh, Tambang Turun, Laba Bersih AnjlokEkonomi Bali
Danantara Garap PSEL Denpasar Raya, Target Nasional Selesai 2028