Edisi Selasa, 27 Oktober 2026
Kulkul

Kabar Bali, dari banjar sampai bandara

Obama Kaitkan Perang Iran dengan Kenaikan Harga, Trump Pertimbangkan Serangan Baru

Mantan Presiden AS Barack Obama menyebut perang dengan Iran sebagai penyebab naiknya harga minyak, solar, dan hampir semua barang, dalam kampanye menjelang pemilu paruh waktu 3 November 2026. Pada hari yang sama, Presiden Donald Trump mengaku sedang mempertimbangkan serangan terhadap Iran yang mungkin dilakukan keesokan harinya.

Redaksi KulkulTerbit Diperbarui 3 menit baca
Bendera Indonesia berkibar di tengah pemandangan pegunungan yang indah di bawah awan yang dramatis.
Ilustrasi · Foto: Shabran Niami / Pexels

Kritik itu ia arahkan kepada Presiden Donald Trump dan disampaikan saat kampanye menjelang pemilihan paruh waktu AS [1][2].

Menurut Obama, perang tersebut menjadi alasan naiknya harga hampir semua barang [1]. "Inilah alasan mengapa harga minyak naik. Inilah alasan mengapa harga bahan bakar diesel naik. Inilah alasan mengapa harga hampir semua barang mengalami kenaikan," kata Obama [1].

Obama juga menyoroti Selat Hormuz, jalur distribusi minyak menuju pasar dunia. "Saat ini, Iran memiliki hak veto atas Selat Hormuz, jalur yang dilalui minyak untuk didistribusikan ke pasar dunia," kata Obama [1]. Ia mengklaim Iran tidak memiliki senjata nuklir berkat kesepakatan yang ia tetapkan [1].

Kesepakatan 2015 itu mewajibkan Iran membatasi pengayaan uranium dan menerima inspeksi sebagai imbalan pelonggaran sanksi. Trump keluar dari JCPOA pada 2018, pada periode pertamanya di Gedung Putih [1].

Pernyataan tersebut muncul dalam rapat umum di Ohio dan Michigan pada 24 Oktober 2026. Acara itu digelar untuk mendukung kandidat Partai Demokrat menjelang pemilu paruh waktu 3 November 2026 [2]. Obama menuding Trump membuat keputusan buruk, menyulut perang yang tidak perlu, dan menimbulkan kekacauan, kekejaman, korupsi, serta ketidakkompetenan [2].

"Yang terpenting, dia memutuskan untuk memulai perang yang tidak perlu dan tidak diinginkan siapa pun," kata Obama [2].

Di Michigan, Obama mendukung Abdul El-Sayed, penantang kandidat Republik Mike Rogers dalam perebutan kursi Senat [2]. Di Ohio, mantan senator Sherrod Brown menantang petahana Jon Husted, sementara Amy Acton berhadapan dengan Vivek Ramaswamy dalam pemilihan gubernur [2]. Obama turut mengkritik proyek renovasi Gedung Putih era Trump, termasuk pembangunan ballroom besar dan dekorasi emas di Ruang Oval [2].

Di sisi lain, Trump pada Sabtu (24/10) waktu AS mengatakan sedang mempertimbangkan serangan terhadap Iran yang "mungkin besok" [4]. "Apakah Anda benar-benar berpikir saya akan memberi tahu Anda jika saya akan melakukannya?" kata Trump [4]. Ia juga mengklaim pengiriman minyak melalui Selat Hormuz meningkat dibanding kondisi sebelum perang [4].

Pada hari yang sama, Trump memberikan suara di Florida lalu berkampanye di Georgia. Di sana ia menyebut kemenangan Mike Collins atas Jon Ossoff sebagai kejutan besar, meski jajak pendapat Atlanta Journal Constitution menunjukkan Ossoff unggul [5]. Trump juga mengumumkan rencana investasi Audi senilai 4,2 miliar dolar AS di pabrik Macon, Georgia [5].

Suasana pemilih tampak sejalan dengan tema yang diusung Obama. Jajak pendapat Associated Press bersama NORC menunjukkan sekitar tujuh dari sepuluh warga AS ingin Kongres baru mengutamakan pengakhiran perang dengan Iran [3]. Sekitar delapan dari sepuluh pemilih terdaftar menilai penurunan biaya hidup harus menjadi prioritas utama [3].

Adapun sekitar empat dari sepuluh pemilih menginginkan penyelidikan terhadap pemerintahan Trump, dan sekitar dua dari sepuluh ingin Kongres mengutamakan dukungan pada agenda politik Trump [3].

Analisis redaksi

Tafsir Redaksi Kulkul atas fakta di atas, bukan bagian dari laporan.

Kritik Obama menyatukan dua isu yang oleh pemilih dapat dirasakan terpisah: perang di luar negeri dan harga kebutuhan di dalam negeri. Dengan menghubungkan perang Iran, Selat Hormuz, harga minyak, dan solar, ia berupaya menerjemahkan kebijakan luar negeri menjadi beban sehari-hari [1]. Bingkai itu berpotensi efektif karena jajak pendapat menunjukkan penurunan biaya hidup dan pengakhiran perang sama-sama menempati urutan atas daftar prioritas pemilih [3].

Namun, hubungan sebab-akibat antara perang dan kenaikan harga tetaplah klaim politik yang disampaikan di panggung kampanye, bukan temuan yang diverifikasi dalam bahan ini [1]. Pernyataan Trump bahwa pengiriman minyak lewat Selat Hormuz meningkat dibanding sebelum perang berseberangan dengan gambaran Obama tentang hak veto Iran atas selat itu [1][4]. Pernyataan Trump bahwa serangan baru sedang dipertimbangkan, hanya beberapa hari sebelum pemungutan suara, dapat memperkuat atau justru melemahkan posisi Partai Republik, tergantung bagaimana pemilih menilai arah perang [2][4]. Hal itu patut dicermati hingga 3 November.

Sumber

  1. detikNews, “Obama Salahkan Trump: Perang Iran Bikin Harga Barang Naik” — news.detik.com
  2. BeritaSatu.com, “Obama Kritik Keras Keputusan Trump Memulai Perang dan Memicu Kekacauan” — beritasatu.com
  3. Ahlulbait Indonesia, “70 Persen Pemilih AS Desak Kongres Baru Akhiri Perang dengan Iran” — ahlulbaitindonesia.or.id
  4. CNBC Indonesia, “Trump Pertimbangkan Serang Iran: Mungkin Besok!” — cnbcindonesia.com
  5. Vietnam.vn, “AS: Presiden dan mantan presiden berkampanye untuk kandidat dari kedua partai.” — vietnam.vn

Topik: Obama, Trump, Iran, Michigan, Kongres, AS

Baca juga