Brent Tembus US$113 Akibat Serangan Houthi ke Saudi; Biaya Operasional Wisata Bali Berpotensi Naik
Harga minyak mentah Brent ditutup di level US$113,17 per barel pada Kamis (22/10/2026), tertinggi dalam lima bulan, setelah serangan Houthi ke fasilitas di Arab Saudi meluas. Kenaikan itu ikut menekan rupiah, sementara ongkos angkut dan asuransi kapal ikut melonjak. Bagi pariwisata Bali yang bergantung pada pasokan energi, transportasi, dan logistik, tekanan biaya tersebut berpotensi merambat ke ongkos operasional.

DENPASAR, KULKUL — Harga minyak mentah dunia menembus level tertinggi dalam lima bulan pada Kamis (22/10/2026). Brent naik US$4,35, atau 4 persen, menjadi US$113,17 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 2,4 persen ke US$99,47 per barel [2][7].
Pemicunya adalah eskalasi serangan kelompok Houthi terhadap sasaran di Arab Saudi. Saudi Aramco memerintahkan karyawannya meninggalkan kantor pusat di Dhahran dan bekerja dari jarak jauh [4]. Perintah evakuasi itu dikeluarkan seiring meningkatnya pertempuran antara perusahaan minyak tersebut dan Houthi [12].
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim kelompoknya menghantam fasilitas Aramco di Yanbu serta Kementerian Pertahanan Arab Saudi di Riyadh [4]. Dua orang tewas dan delapan lainnya terluka dalam serangan ke Bandara Internasional King Fahd di Dammam [4][10]. Indeks acuan bursa Arab Saudi, TASI, turun 2,5 persen pada perdagangan Kamis [4].
Pada Jumat (23/10) pagi, harga bergerak tipis. Brent turun 21 sen atau 0,2 persen ke US$112,96 per barel, dan WTI melemah 27 sen menjadi US$98,12 per barel [3][12]. Brent sempat menyentuh US$112,55 pada sesi Kamis, level tertinggi sejak 18 Mei [4]. Sepanjang 2026, harga Brent sudah naik lebih dari 85 persen akibat perang antara AS dan Iran [5].
Menurut data Kpler, setidaknya 18 serangan terhadap kapal tanker terjadi dalam dua pekan terakhir [8][9]. Dari sisi pasokan, penutupan katup pipa yang menghubungkan ladang Hamada dan Tahara dengan pelabuhan Zawiya di Libya menambah tekanan [3].
Cadangan minyak mentah AS juga menyusut 3,06 juta barel pada pekan lalu hingga tersisa 412,5 juta barel [8]. Sementara itu, pasar menimbang kemungkinan pelonggaran sanksi AS terhadap ekspor energi Rusia yang dapat menambah pasokan global [11].
Sekitar 14 juta barel per hari melintasi Selat Hormuz, dan kira-kira 40 persen minyak mentah non-Iran dikirim lewat rute lain pada September [1]. Sekitar 30 serangan terhadap kapal tercatat sepanjang Oktober [1].
Biaya pengiriman menjadi beban tersendiri. Tarif supertanker mendekati rekor di kisaran 37,37 dolar AS per barel, dan premi asuransi risiko perang naik hingga sekitar 10 persen dari nilai kapal [1]. Pedagang disebut dapat meraup tambahan sekitar 20 dolar AS per barel dari penjualan kembali minyak Irak [1].
Natasha Kaneva, kepala tim strategi komoditas global JPMorgan, menggambarkan pergeseran persoalan itu. "Dulu pada April, masalahnya adalah kekurangan minyak mentah. Pada Oktober, masalahnya adalah biaya untuk memindahkannya," kata Natasha Kaneva [1]. Adapun Homayoun Falakshahi dari Kpler menilai volume tetap tinggi meski serangan meningkat. "Volume tetap tinggi meski serangan meningkat karena keuntungan membuat risiko tersebut sepadan," kata Homayoun Falakshahi [1].
Dampaknya terasa di pasar keuangan domestik. Rupiah melemah 14 poin atau 0,08 persen ke Rp18.074 per dolar AS dari Rp18.060 pada penutupan sebelumnya [6]. Kepemilikan asing atas obligasi pemerintah berkurang Rp3,66 triliun menjadi Rp914 triliun per Rabu (21/10), setara 13,02 persen dari total obligasi beredar [6].
"Harga minyak melonjak menyusul pernyataan kelompok Houthi (Ansarullah Yaman) yang mengumumkan rencana untuk menyerang infrastruktur minyak Arab Saudi di Yanbu dan Bandara Dammam," kata Josua Pardede [6].
"Keselamatan jemaah harus menjadi prioritas utama," kata Syamsu Rizal [10]. Ia juga meminta pemerintah mengkaji situasi secara mendalam dan berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri serta Atase Pertahanan RI di Jeddah dan Riyadh [10].
Di arena diplomasi, Presiden Rusia Vladimir Putin telah setuju melanjutkan pembicaraan damai dengan Ukraina yang dimediasi AS, paling cepat bulan depan [9]. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan negaranya sepenuhnya siap membela diri [9].
Analisis redaksi
Tafsir Redaksi Kulkul atas fakta di atas, bukan bagian dari laporan.
Bagi pariwisata Bali, rangkaian fakta ini berpotensi bermuara pada biaya operasional yang lebih tinggi. Harga Brent di atas US$113 dan rupiah di Rp18.074 per dolar AS dapat membuat energi dan barang berbasis impor, mulai dari bahan bakar kendaraan wisata hingga pasokan hotel dan restoran, terasa lebih mahal dalam rupiah [2][6]. Penyebabnya bukan semata harga minyak, tetapi juga ongkos memindahkannya: tarif supertanker mendekati rekor dan premi asuransi perang sekitar 10 persen dari nilai kapal [1]. Bila biaya rantai pasok semacam itu terus berada di level tinggi, pelaku usaha wisata di Bali berpotensi menghadapi pilihan sulit antara menaikkan tarif atau menggerus margin. Seberapa jauh kenaikan itu diteruskan ke wisatawan masih menjadi pertanyaan terbuka, karena bahan tidak memuat data tarif atau biaya operasional sektor wisata Bali.
Sisi lain yang patut dicermati adalah persepsi risiko perjalanan. Serangan ke bandara di Dammam dan usul moratorium umrah di DPR memperlihatkan bahwa kekhawatiran keselamatan perjalanan sudah masuk ke ruang kebijakan, setidaknya untuk tujuan Arab Saudi [10][4]. Sinyal serupa dapat mengganggu pola perjalanan lintas kawasan dan, pada akhirnya, menjadi bahan pertimbangan wisatawan dalam menentukan destinasi. Namun, dampak langsung terhadap kunjungan ke Bali tidak tercantum dalam bahan sehingga tidak dapat dipastikan. Di sisi lain, kemungkinan pelonggaran sanksi terhadap ekspor energi Rusia dan dimulainya kembali pembicaraan damai Rusia-Ukraina dapat berperan meredam harga bila pasokan global bertambah [11][9], meski jadwalnya belum pasti.
Sumber
- Kompas.com, “Kapal-kapal Temukan Cara Akali Blokade Selat Hormuz, Ekspor Minyak Makin Lancar” — kompas.com
- detikFinance, “Harga Minyak Dunia Meledak ke US$ 113/Barel, Tertinggi dalam 5 Bulan!” — finance.detik.com
- CNN Indonesia, “Harga Minyak Mulai Melandai usai Melonjak 4 Persen Gara-gara Houthi” — cnnindonesia.com
- kontan.co.id, “Kantor Pusat Aramco Dievakuasi, Harga Minyak Brent Tembus US$ 112” — internasional.kontan.co.id
- Bloomberg Technoz, “Serangan ke Arab Saudi Meluas, Harga Minyak Melonjak Tinggi” — bloombergtechnoz.com
- ANTARA News Sulteng, “Rupiah melemah dipengaruhi lonjakan tajam harga minyak global” — sulteng.antaranews.com
- Kumparan.com, “Harga Minyak Mentah Naik 4 Persen, Harga Komoditas Lain Bervariasi” — m.kumparan.com
- CNN Indonesia, “Harga Minyak Dunia Mendidih ke US$110,11 Imbas Serangan Houthi ke Arab” — cnnindonesia.com
- kontan.co.id, “Harga Minyak Ditutup Stabil, Pasar Pertimbangan Geopolitik dan Penurunan Cadangan AS” — internasional.kontan.co.id
- Okezone, “Houthi Bombardir Bandara Arab Saudi, DPR Usul Pemberangkatan Jemaah Umrah RI Ditunda” — news.okezone.com
- Disway, “Harga Minyak WTI Hari Ini: Dupoin Futures Soroti Peluang Kenaikan ke US$106,61” — pontianakinfo.disway.id
- kontan.co.id, “Harga Minyak Bergerak Tipis di Pagi Ini, Kekhawatiran Gangguan Pasokan Menyelimuti” — internasional.kontan.co.id
Topik: Selat Hormuz, Houthi, Arab, AS
Baca juga
Ekonomi Bali
GFS Pride Tenggelam di Hormuz, Risiko Logistik Pariwisata Bali Patut DicermatiEkonomi Bali
Saham AI Merosot, Dana Bergeser ke Treasury AS dan Sektor Defensif; Dampak ke Biaya Wisata Bali Belum TerukurEkonomi Bali
OJK Jatuhkan Denda Rp2,23 Triliun ke 166 Pihak, Kasus DSSA, BREN, dan CUAN TerbesarEkonomi Bali
Mentan Yakin Swasembada Aman Hadapi La Nina, Inflasi Pangan Tetap Jadi Sorotan