BEI Keluarkan 82 Saham HSC dari IHSG Mulai 2 November, Komite HSC Diperluas
Bursa Efek Indonesia memastikan saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) tidak lagi dihitung dalam IHSG mulai 2 November 2026. Sebanyak 82 saham dikeluarkan. BEI juga memperluas komite HSC menjadi sembilan orang. Bahan yang ada tidak memuat data soal dampaknya terhadap likuiditas pasar modal Bali.

DENPASAR, KULKUL — Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan saham yang masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC) tidak akan lagi dihitung dalam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terhitung 2 November 2026 [1]. Sebanyak 82 saham berkategori HSC dikeluarkan dari perhitungan indeks acuan pasar modal nasional itu [3].
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyebut langkah ini sebagai lanjutan dari pengecualian saham HSC pada indeks IDX30, LQ45, dan IDX80 [1]. Bobot saham HSC yang keluar akan dibagikan kepada saham lain yang tetap menjadi konstituen IHSG [1].
Pertanyaan soal dilusi indeks dijawab BEI dengan hasil pengujian historis. Menurut backtest yang dilakukan, kebijakan tersebut tidak akan memicu lonjakan pada indeks [1].
Dari sisi pengawasan, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi menyatakan bahwa penguatan pengawasan dan penegakan hukum adalah bagian dari agenda reformasi pasar modal [1]. Batas keterbukaan informasi kepemilikan saham diperluas dari di atas 5% menjadi di atas 1% [1]. Klasifikasi tipe investor pun dirinci, dari sembilan kelompok besar menjadi 39 kelompok [1].
BEI juga mengubah susunan komite HSC. Keanggotaannya naik menjadi sembilan orang dengan menggandeng pihak independen dari industri pasar modal, kalangan akademisi, dan investor asing [2]. Empat kursi diisi perwakilan direksi lembaga self-regulatory organization (SRO), sedangkan lima kursi lain berasal dari unsur eksternal yang independen [2].
Unsur eksternal mencakup pelaku industri, ahli tata kelola, akademisi, dan investor asing [4].
Unsur tata kelola diwakili Ketua Umum Dewan Pengurus Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) [2]. Dua akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Prof. Mardiasmo dan Prof. Eduardus Tandelilin, turut duduk di komite [2]. Investor asing diwakili Chapman Taylor dari Capital Group, yang berpengalaman lebih dari 30 tahun mengelola dana portofolio [2].
Jeffrey Hendrik membuka peluang komite bertambah besar. "Dengan komposisi baru ini, kami dapat saja menambah anggota atau dalam diskusinya nanti bisa mengundang narasumber independen dalam rapat-rapat komite," kata Jeffrey Hendrik [2]. Ia juga menyampaikan harapan atas hasil kerja komite. "Seperti kami sampaikan tadi, kami harapkan dengan demikian transparansi tata kelola dan kredibilitas dari output dari komite ini akan dapat lebih baik ke depannya," kata Jeffrey Hendrik [2].
Daftar HSC sendiri mencatat 88 saham, termasuk emiten yang dikenai maupun dicabut notasi HSC sepanjang 2026 [4]. Tiga emiten sudah dicabut dari status itu, sementara 85 emiten lainnya masih berstatus HSC pada periode April hingga Oktober 2026 [4].
Bahan yang terkumpul tidak memuat data tentang investor, emiten, maupun perusahaan sekuritas di Bali. Dampak kebijakan ini terhadap likuiditas pasar modal Bali karena itu belum dapat diukur dari bahan yang ada.
Analisis redaksi
Tafsir Redaksi Kulkul atas fakta di atas, bukan bagian dari laporan.
Bahan yang terkumpul tidak memuat data tentang investor, emiten, maupun perusahaan sekuritas di Bali, sehingga dampak langsung kebijakan ini terhadap likuiditas pasar modal daerah belum dapat diukur. Yang tersedia adalah konteks kebijakannya: 82 saham keluar dari perhitungan IHSG [3], bobotnya dialihkan ke konstituen lain [1], dan backtest BEI menyimpulkan tidak ada lonjakan indeks [1]. Perubahan komposisi indeks berkaitan dengan cara dana investasi menempatkan portofolionya, sehingga arah aliran dana ke saham-saham yang tersisa patut dicermati setelah 2 November.
Di sisi lain, perluasan keterbukaan kepemilikan menjadi di atas 1% dan perincian klasifikasi investor menjadi 39 kelompok [1] berpotensi membuat peta kepemilikan saham lebih terang. Kehadiran investor asing, akademisi, dan unsur tata kelola di komite HSC [2][4] dapat mempengaruhi cara penilaian emiten berkonsentrasi kepemilikan tinggi. Hubungan semua ini dengan pasar modal Bali baru dapat dipastikan bila tersedia data emiten dan basis investor yang relevan.
Sumber
- CNBC Indonesia, “Saham HSC Bakal Dikeluarkan, IHSG Bakal Terdilusi? Ini Penjelasan BEI” — cnbcindonesia.com
- Kompas.com, “BEI Perluas Komite HSC Jadi 9 Orang, Libatkan Investor Asing dan Akademisi” — money.kompas.com
- KONTAN, “IHSG Reborn, Cerminan Saham Milik Publik” — insight.kontan.co.id
- ANTARA News, “BEI perluas Komite HSC libatkan investor asing dan akademisi” — ambon.antaranews.com
Baca juga
Ekonomi Bali
MKNT Cetak Laba Rp15,15 Miliar, Ekuitas Positif dan Saham Kembali Reguler di BEIEkonomi Bali
BEI Turunkan Batas ARB Jadi 7 Persen, Berlaku 19 Oktober hingga 31 Desember 2026Ekonomi Bali
Rupiah Tembus Rp18.000, BI Jaga Stabilitas di Tengah Tekanan GlobalEkonomi Bali
IHSG Ambruk 11,57% Usul MSCI, Danantara Siap Manfaatkan Peluang