Edisi Minggu, 18 Oktober 2026
Kulkul

Kabar Bali, dari banjar sampai bandara

Bahlil Minta Polri Tindak Penimbun BBM, Stok Nasional Aman 16-18 Hari

Di sisi lain, ia memastikan stok BBM nasional masih aman dengan estimasi ketersediaan 16 hingga 18 hari untuk Pertalite.

Redaksi KulkulTerbit Diperbarui 2 menit baca
Adegan pasar Indonesia dengan seorang penjual wanita yang mengatur hasil bumi. Suasana pasar yang hidup dan otentik.
Ilustrasi · Foto: Rizky Rianto / Pexels

Langkah ini diambil menyusul laporan mengenai adanya praktik penimbunan dan penjualan kembali BBM subsidi dengan harga yang lebih tinggi di pasaran [1]. Bahlil menyoroti fenomena di mana kendaraan tertentu, seperti mobil Pajero, terlihat mengisi tangki dalam jumlah besar untuk tujuan komersial [1]. Ia menegaskan bahwa antrean panjang di sejumlah SPBU, termasuk yang dilaporkan terjadi di Bali, lebih disebabkan oleh masalah distribusi dan penyalahgunaan, bukan kelangkaan stok [1].

Secara nasional, Bahlil menyatakan bahwa ketersediaan stok BBM masih dalam kondisi aman. Ia mengutip laporan dari Pertamina yang menunjukkan stok BBM nasional berada di kisaran 16 hingga 18 hari [2]. Khusus untuk Pertalite, stok saat ini tercatat menurun menjadi sekitar 16 hingga 18 hari, yang masih memenuhi ambang batas standar nasional [4]. Bahlil memperkirakan bahwa penambahan stok Pertalite hingga mencapai 20 hari memerlukan waktu sekitar satu pekan [2].

Bahlil menegaskan bahwa kondisi stok untuk jenis BBM tersebut tidak menimbulkan kekhawatiran [2]. Ia juga menyebutkan bahwa pada kondisi normal, stok Pertalite umumnya dijaga di atas 18 hari, dan pada Idulfitri 2026 lalu, ketersediaan BBM dijaga pada level 24 hari [4].

Dalam rapat koordinasi dengan Kapolri Jenderal Suyudi Ario Setonterian di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Bahlil menekankan pentingnya penegakan hukum [1]. Ia meminta aparat kepolisian untuk memproses hukum pelaku yang membeli BBM subsidi dalam jumlah besar untuk dijual kembali [1]. Bahlil mengkritik praktik penimbunan BBM solar subsidi yang kemudian dijual dengan harga industri [1]. Ia juga menyebut bahwa kelangkaan BBM yang berulang bukan sekadar masalah distribusi, tetapi peringatan terhadap ketahanan energi nasional [2].

Pengamat kebijakan energi Sofyano Zakaria mendesak aparat penegak hukum untuk menindak tegas pelaku penyelewengan BBM subsidi [3]. Sofyano menekankan bahwa ancaman hukuman yang berat tidak akan berarti apabila tidak disertai penindakan nyata [3].

Analisis redaksi

Tafsir Redaksi Kulkul atas fakta di atas, bukan bagian dari laporan.

Ketika stok secara agregat aman namun distribusi di tingkat ritel mengalami gangguan, hal ini sering kali disebabkan oleh distorsi harga yang memicu arbitrase ilegal. Praktik penimbunan BBM subsidi untuk dijual kembali dengan harga pasar menciptakan kelangkaan buatan di titik-titik tertentu, yang memperburuk kondisi konsumen dan mengganggu stabilitas harga lokal.

Selain itu, pergeseran konsumsi dari BBM non-subsidi ke BBM bersubsidi akibat perbedaan harga yang signifikan memberikan tekanan tambahan pada cadangan Pertalite. Hal ini menuntut pemerintah untuk tidak hanya mengandalkan peningkatan stok, tetapi juga memperkuat pengawasan distribusi dan penegakan hukum untuk memastikan subsidi tepat sasaran. Tanpa intervensi yang efektif, ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan di tingkat mikro dapat berlanjut, meskipun stok nasional secara makro terlihat aman.

Sumber

  1. detikFinance, “Bongkar Ulah Pengendara Pajero, Bahlil Minta Polisi Tindak Penimbun BBM” — finance.detik.com
  2. Kompas.id, “Bahlil: Stok BBM Nasional Aman” — kompas.id
  3. ANTARA News, “Pengamat desak aparat tindak tegas pelaku penyelewengan BBM subsidi” — kalbar.antaranews.com
  4. CNN Indonesia, “Bahlil Ungkap Stok Pertalite Menurun Jadi Sekitar 16-18 Hari” — cnnindonesia.com

Topik: Polri, Pertalite

Baca juga

Bahlil Minta Polri Tindak Penimbun BBM, Stok Nasional Aman