Edisi Selasa, 20 Oktober 2026
Kulkul

Kabar Bali, dari banjar sampai bandara

Tekanan Ekonomi Gen Z: Ekonom Indef Tekankan Peningkatan Penghasilan, Bukan Hanya Berhemat

Generasi Z menghadapi tekanan ekonomi dari naiknya harga kebutuhan pokok, pendapatan yang terbatas, dan ketatnya persaingan kerja. Ekonom Indef yang dihubungi pada Jumat, 16 Oktober 2026, menilai berhemat saja tidak memadai bila pendapatan stagnan. Sejumlah tulisan terbaru, mulai dari panduan alokasi gaji hingga kiat gaya hidup, menawarkan jalan keluar yang berbeda-beda.

Redaksi KulkulTerbit Diperbarui 2 menit baca
Sekelompok profesional mendiskusikan dokumen bisnis selama rapat di lingkungan kantor modern.
Ilustrasi · Foto: Vlada Karpovich / Pexels

M. Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, memberikan penilaiannya saat dihubungi pada Jumat, 16 Oktober 2026. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia bergerak di kisaran 5% [1].

"Penghematan saja tidak cukup apabila pendapatan stagnan sementara biaya hidup meningkat. Kuncinya adalah meningkatkan daya saing dan kapasitas penghasilan secara berkelanjutan," kata Rizal [1].

Tulisan itu memuat pandangan Rudini dari BCA Digital bahwa persoalan terbesar anak muda terletak pada lemahnya kendali diri, bukan pada kurangnya pengetahuan tentang keuangan [2].

Untuk menata pengeluaran, formula 10-20-30-40 dianjurkan.

Di luar urusan angka, Baznas Provinsi Lampung menerbitkan artikel pada 19 Oktober 2026 yang ditulis oleh penulis berinisial MBL-01 [3]. Isinya merangkum delapan kebiasaan yang dianjurkan agar Gen Z menjalani gaya hidup Islami [3].

Dengan demikian, bahan yang terkumpul menampilkan tiga pendekatan yang berbeda. Sudut pertama menekankan penguatan penghasilan, yang kedua menyoroti disiplin pengeluaran, dan yang ketiga menawarkan pegangan nilai dalam bergaya hidup [1][2][3].

Analisis redaksi

Tafsir Redaksi Kulkul atas fakta di atas, bukan bagian dari laporan.

Pernyataan ekonom Indef bahwa penghematan tidak cukup bila pendapatan stagnan [1] dapat dibaca sebagai peringatan bagi pekerja muda di daerah berbasis pariwisata seperti Bali, tempat pendapatan banyak warga bergantung pada sektor jasa. Bahan yang ada tidak memuat data harga, upah, maupun kondisi Bali, sehingga hubungan itu masih berupa tafsir. Meski begitu, gagasan meningkatkan daya saing dan kapasitas penghasilan [1] berpotensi relevan bagi pelaku usaha kecil yang ingin menjaga daya beli konsumennya sekaligus memperluas pendapatan sendiri.

Panduan alokasi gaji 10-20-30-40 [2] patut dicermati dengan hati-hati. Porsi 40% untuk kebutuhan pokok mengandaikan biaya hidup dasar masih terjangkau, padahal tekanan harga kebutuhan pokok justru menjadi sumber persoalan yang disebut dalam bahan [1]. Menjadi pertanyaan apakah rumus semacam itu masih realistis bagi mereka yang berpenghasilan terbatas. Sementara itu, pendekatan gaya hidup [3] dapat membantu menahan pengeluaran impulsif, tetapi tidak menjawab persoalan stagnasi pendapatan yang disorot ekonom [1].

Sumber

  1. Bloomberg Technoz, “Tips untuk Gen Z Bertahan di Tengah Tekanan Ekonomi” — bloombergtechnoz.com
  2. Kompasiana.com, “GENGSI vs TABUNGAN: MEMBEDAH PSIKOLOGI KEUANGAN GEN Z Halaman 1” — kompasiana.com
  3. BAZNAS Prov. Lampung, “Gen Z dan Gaya Hidup Islami: Menjaga Iman di Tengah Perkembangan Zaman” — lampung.baznas.go.id

Topik: Gen Z

Baca juga

Tekanan Ekonomi Gen Z: Ekonom Indef Tekankan Peningkatan